Jakarta (ANTARA) - Pakar Feng Shui Yulius Fang menyampaikan bahwa beberapa hiasan dan benda simbol keberuntungan biasanya dipajang di rumah keluarga keturunan Tionghoa pada masa perayaan tahun baru Imlek.

"Jadi, semua orang, tanpa kecuali, mau dari muda sampai tua, mau laki maupun wanita, kita butuh satu keberuntungan dalam hidup kita. Makanya Feng Shui Astrologi, bazi, dan kawan-kawan ini berusaha keras untuk menghadirkan keberuntungan di dalam diri kita," katanya kepada ANTARA pada Rabu (11/2).

Dia mengatakan bahwa tulisan Fu, simbol dalam bahasa Tionghoa yang berarti beruntung atau hoki, biasa dipajang di rumah dengan harapan pemilik rumah bisa mendapat keberuntungan sepanjang tahun.

Menurut dia, keberuntungan akan datang bersama kerja keras. Jadi, penting untuk mengiringi usaha dengan doa.

Baca juga: Imlek 2577: Sekkab Teddy harap Tahun Kuda Api penuh rezeki

Selain dipasang pada perayaan Imlek, simbol Fu sering dijadikan sebagai bagian dekorasi rumah tetap dengan harapan usaha pemilik rumah bisa selalu mendatangkan hasil baik.

Di kalangan masyarakat Tionghoa juga ada kepercayaan bahwa memasang tulisan Fu secara terbalik bisa menumpahkan keberuntungan atau rezeki untuk ditampung oleh pemilik rumah.

Selain tulisan Fu, Yulius mengatakan, barang pajangan seperti koin emas zaman dulu atau kotak harta di meja dianggap sebagai simbol kemakmuran dan rezeki melimpah.

Menurut dia, buah jeruk dan apel juga dikaitkan dengan keberuntungan dan kemakmuran.

"Apel itu melambangkan Ping an, artinya aman, sentosa, selamat, damai, harmoni, seperti itu. Jadi, kedua buah ini biasanya juga sering di display baik sincia ataupun tidak sincia," ia menjelaskan.

Baca juga: Di momen Imlek, Gibran puji peran umat Konghucu perkuat toleransi

Hiasan lain yang lazim dipajang di rumah warga Tionghoa adalah Fu Lu Shou, patung tiga dewa yang dipercaya mendatangkan keberuntungan (Fu), peruntungan karier (Lu), dan usia tua (Shou).

Caishen atau Dewa Harta juga termasuk simbol kekayaan yang kerap dijadikan pajangan di rumah.

Guna "mengundang" Dewa Harta ke rumah, orang Tionghoa biasa membuka pintu, jendela, dan menyalakan semua lampu rumah pada malam awal tahun atau sincia.

Yulius juga mengemukakan munculnya kepercayaan-kepercayaan yang sebenarnya tidak berhubungan dengan tradisi masyarakat Tionghoa, seperti kepercayaan bahwa hujan saat sincia akan membawa keberuntungan dan menaruh benda tajam di rumah semasa Imlek bisa mendatangkan kesialan.

Baca juga: AHY merayakan Tahun Baru Imlek perdana di Batam
Baca juga: Komunitas Tionghoa berperan signifikan dalam pembangunan bangsa
Baca juga: Jejak akulturasi Tiongkok-Indonesia pada selembar kain



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026