Mataram (ANTARA) - Pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat sepanjang 2025 sebesar 3,22 persen, turun dari 5,30 persen pada 2024, menjadi sinyal penting bahwa struktur ekonomi daerah ini masih rentan terhadap guncangan sektoral. 

Angka tersebut bukan sekadar statistik tahunan, melainkan cerminan dari dinamika mendasar yang sedang berlangsung, yakni pergeseran dari ekonomi berbasis ekstraksi mentah menuju hilirisasi dan diversifikasi.

Sepanjang triwulan I dan II 2025, ekonomi NTB terkontraksi masing-masing minus 1,43 persen dan minus 1,12 persen. Penurunan produksi tambang hingga sekitar 50 persen akibat larangan ekspor konsentrat tembaga serta kendala operasional smelter menjadi faktor utama. 

Ketergantungan besar terhadap sektor pertambangan yang selama ini menjadi lokomotif Produk Domestik Regional Bruto membuat fluktuasi produksi langsung memukul kinerja agregat.

Namun, gambaran berubah pada triwulan IV 2025. Ekonomi NTB melonjak 12,49 persen secara tahunan. Industri pengolahan tumbuh 137,78 persen, didorong beroperasinya smelter tembaga di Kabupaten Sumbawa Barat. 

Ekspor barang dan jasa meningkat lebih dari 100 persen. Momentum ini menegaskan satu hal, yakni ketika hilirisasi berjalan, nilai tambah tidak lagi keluar daerah, tetapi tercipta di dalam wilayah sendiri.

Paradoks antara pertumbuhan kumulatif 3,22 persen dan lonjakan 12,49 persen bukanlah kontradiksi. Yang pertama mencerminkan perjalanan setahun penuh dengan tekanan struktural, yang kedua menunjukkan potensi kebangkitan ketika fondasi industri mulai bekerja. NTB sedang berada dalam fase transisi, dan setiap transisi membawa konsekuensi jangka pendek sebelum manfaat jangka panjang terasa.

Meski industri pengolahan melesat, struktur ekonomi masih rapuh. Pertambangan dan penggalian menyumbang 18,75 persen terhadap PDRB pada triwulan IV 2025, sedikit di atas pertanian 18,49 persen dan perdagangan 14,38 persen. 

Ketergantungan pada sektor padat modal membuat ekonomi mudah bergejolak mengikuti regulasi dan produksi. Tanpa pertambangan bijih logam, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif, indikasi bahwa sektor rakyat relatif stabil.

Pertanian menyerap 33,77 persen tenaga kerja, perdagangan 18,96 persen, dan industri pengolahan 10,33 persen. Basis tenaga kerja berada pada sektor yang dekat dengan masyarakat, tetapi nilai tambahnya masih terbatas. Di sinilah pekerjaan rumah terbesar yakni memastikan pertumbuhan tidak hanya tinggi di atas kertas, melainkan juga inklusif dan berkelanjutan.

Smelter menjadi simbol harapan sekaligus ujian. Jika hilirisasi berhenti pada produksi katoda tembaga dan logam mulia, dampaknya terbatas pada ekspor. 

Namun jika diikuti industri turunan seperti kabel, pipa, pupuk berbasis asam sulfat, hingga komponen manufaktur, rantai nilai akan memanjang dan efek pengganda menguat. Transformasi hanya bermakna bila menciptakan ekosistem usaha yang terhubung dengan ekonomi lokal.

Diversifikasi mutlak dilakukan. Penguatan agroindustri menjadi langkah strategis, mengingat NTB memiliki basis pertanian kuat namun masih dominan menjual bahan mentah. Jagung, padi, bawang merah, dan rumput laut menyimpan potensi hilirisasi besar. 

Program Makan Bergizi Gratis dengan jutaan penerima manfaat dapat menjadi pasar domestik yang menyerap produksi petani dan nelayan lokal, asalkan tata kelola distribusi dan pengawasan diperkuat.

Ekonomi biru juga perlu dipercepat. Potensi kelautan, perikanan, dan pariwisata bahari membuka ruang pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkelanjutan dibanding sektor ekstraktif. 

Sektor tradable non-tambang seperti industri makanan-minuman, pengolahan hasil laut, hingga kerajinan berbasis pariwisata harus diperkuat agar NTB tidak lagi terlalu sensitif terhadap fluktuasi tambang.

Target pertumbuhan 6,83 persen pada 2026 bukan mustahil, tetapi menuntut konsistensi kebijakan, belanja produktif, perizinan yang efisien, serta pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri baru. Stabilitas harga pangan pun menjadi syarat, karena pertumbuhan kehilangan makna jika daya beli tergerus inflasi.

Pertumbuhan 3,22 persen adalah alarm sekaligus pelajaran. Lonjakan 12,49 persen adalah peluang. Masa depan ekonomi NTB tidak lagi boleh bertumpu pada satu mesin. 

Keberanian membangun banyak mesin sekaligus yang saling terhubung dan saling menguatkan menjadi kunci agar pertumbuhan bukan hanya lebih tinggi, tetapi juga lebih adil dan tahan guncangan.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata ruang ngabuburit sebagai wajah sosial NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Retaknya perlindungan santriwati di pesantren NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Ramadhan di NTB: Disiplin ASN tak boleh surut
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB: Ramadhan, takjil, dan ruang publik di NTB





COPYRIGHT © ANTARA 2026