Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta seluruh aktivitas pelayaran di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mewaspadai potensi gelombang laut setinggi empat meter pada periode 3-9 Maret 2026.

"Kami mohon masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gelombang tinggi," kata Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Satria Topan Primadi di Mataram, Selasa.

Pada 3-5 Maret 2026, lanjutnya, gelombang laut setinggi 2,5 sampai 4 meter terjadi di sejumlah perairan selatan meliputi Selat Lombok bagian selatan, perairan selatan Pulau Lombok, Selat Alas bagian selatan, perairan selatan Pulau Sumbawa, hingga Samudera Hindia selatan NTB.

Sementara itu gelombang setinggi 1,25 sampai 2,5 meter diprakirakan terjadi di Selat Lombok bagian utara, perairan utara Pulau Sumbawa, serta Selat Sape bagian utara dan selatan.

Baca juga: Waspada! Gelombang 6 meter ancam perairan NTB

Potensi gelombang setinggi 2,5 meter hingga 4 meter diprakirakan meluas tidak hanya perairan selatan, tetapi juga berpotensi terjadi di perairan utara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa pada 6-9 Maret 2025.

"Gelombang setinggi 1,25 sampai 2,5 meter masih berpeluang terjadi di Selat Lombok bagian utara, perairan Selat Sape bagian utara, dan Selat Sape bagian selatan," papar Satria.

Gelombang tinggi berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi perahu nelayan, kapal tongkang, dan kapal feri, yang melintasi jalur-jalur strategis seperti Selat Lombok dan Selat Alas.

Satria mengimbau operator pelayaran, nelayan, dan masyarakat pesisir untuk selalu memperhatikan pembaruan informasi cuaca serta mempertimbangkan faktor keselamatan sebelum pergi melaut.

Baca juga: Gelombang laut NTB mulai kondusif, siklon tropis menjauh

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, potensi cuaca ekstrem yang terjadi sepekan ke depan di NTB terjadi akibat sejumlah fenomena gangguan atmosfer.

BMKG mengidentifikasi keberadaan dua bibit siklon tropis di Samudera Hindia, yakni bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia sebelah selatan Pulau Jawa dan bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia sebelah barat Australia.

Kedua bibit badai tropis yang muncul secara bersamaan tersebut berkontribusi terhadap peningkatan suplai massa udara basah dan penguatan pertumbuhan awan hujan.

Selain itu gelombang atmosfer yang aktif seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin turut memperkuat proses konvektif di NTB.

Baca juga: Potensi cuaca ekstrem menguat, BMKG ingatkan warga NTB bersiap
Baca juga: Waspada Siklon Tropis, BMKG sebut sistem 91S kian menguat di NTB

 



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026