Jakarta (ANTARA) - Cucu Presiden Pertama RI Soekarno, Didi Mahardhika Soekarno menilai nasionalisme harus tetap menjadi fondasi dalam setiap praktik bernegara.
Ia menyampaikan di tengah tekanan global dan dinamika politik dalam negeri, suara tentang nasionalisme kembali menemukan relevansinya.
"Tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya soal ekonomi atau geopolitik, melainkan juga arah demokrasi yang mulai dipraktikkan secara keliru oleh sebagian pihak," kata Didi dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Ia menyoroti adanya gejala demokrasi tidak lagi dijalankan sebagai alat koreksi yang sehat, tetapi dijadikan instrumen delegitimasi pemerintahan.
"Demokrasi seharusnya mengoreksi, bukan meruntuhkan legitimasi negara" menjadi garis pemikiran yang didorongnya dalam melihat situasi kekinian.
"Kritik terhadap pemerintah adalah bagian penting dalam sistem demokrasi. Namun ketika kritik tersebut tidak lagi bertujuan memperbaiki, melainkan melemahkan kepercayaan publik secara sistematis, maka yang terjadi adalah distorsi demokrasi," ujar Didi.
Ia menilai praktik seperti ini berbahaya, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Polarisasi yang dipicu oleh delegitimasi politik justru dapat menggerus persatuan nasional dan melemahkan posisi Indonesia di kancah internasional.
Baca juga: Gubernur NTB: Nasionalisme dan patriotisme kunci bertahan di era globalisasi
Sebagai putra Rachmawati Soekarnoputri, Didi menegaskan demokrasi Indonesia harus tetap berpijak pada nilai gotong royong, musyawarah, dan kepentingan bangsa. Ia mengingatkan kebebasan berpendapat tidak boleh berubah menjadi alat menciptakan ketidakstabilan.
Ia memandang dalam situasi saat ini, Indonesia membutuhkan stabilitas politik yang ditopang kritik konstruktif, bukan serangan yang melemahkan legitimasi negara. Baginya, nasionalisme tidak hanya soal melawan pengaruh luar, tetapi juga menjaga kohesi di dalam negeri.
Didi yang juga Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra itu, menempatkan dirinya dalam posisi untuk terus mendorong narasi kebangsaan yang menyejukkan sekaligus tegas.
Baca juga: Menag Nasaruddin ingatkan bahaya nasionalisme eksklusif bisa lahirkan perpecahan
Ia mengingatkan perjuangan menjaga Indonesia tidak berhenti pada kemerdekaan, tetapi berlanjut dalam menjaga arah demokrasi agar tetap berada di jalur yang memperkuat, bukan melemahkan bangsa.
Di tengah derasnya arus informasi dan kontestasi politik, Didi menekankan bahwa nasionalisme dan demokrasi sejatinya harus berjalan seiring serta saling menguatkan demi keutuhan dan masa depan Indonesia.
Pewarta : Benardy Ferdiansyah
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026