QODARI: PRESIDEN GALANG KOALISI AMANKAN PEMERINTAHAN

id

     Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Partai Demokrat masih berusaha menggalang koalisi dengan Partai Golkar dan PDI Perjuangan untuk mengamankan laju pemerintahan lima tahun ke depan.

     "Agar pemerintahan lima tahun ke depan tetap aman dan stabil maka dukungan politik di eksekutif dan legislatif terhadap Presiden harus dominan," kata Muhammad Qodari di Jakarta, Sabtu.

     Dijelaskannya, dukungan suara dari koalisi parpol pengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono di parlemen ada sebanyak 314 (56,07 persen) belum terlalu aman.

     Pertimbangannya, kata dia, jika salah satu parpol pengusungnya membelot, maka dukungan parlemen terhadap Presiden bisa kurang dari 50 persen, sehingga menjadi tidak aman.

     Karena itu, kata dia, Presiden melalui Partai Demokrat masih berupaya menggalang koalisi dengan parpol di luar koalisi parpol pengusungnya, yakni Partai Golkar yang memiliki 107 kursi (19,10 persen) dan PDI Perjuangan yang memiliki 95 kursi (16,96 persen).

     Menurut dia, Partai Golkar solid menyatakan sikap berkoalisi dengan pemerintah, sedangkan PDI Perjuangan belum menyatakan sikapnya.

     Partai Golkar sudah ikut menandatangani kontrak politik bersama lima parpol pengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, yakni Partai Demokrat (PD), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), di Jakarta, Kamis (15/10) malam.

     Sedangkan PDI Perjuangan, kata dia, masih ditunggu sikapnya hingga Selasa (20/10), yakni sehari menjelang pengumuman kabinet mendatang.

     Qodari memperkirakan, belum adanya pernyataan satu kata pun dari Ketua Umum DPP PDI Perjuangan hingga saat ini, mengisyaratkan PDI Perjuangan memilih sikap berada di luar pemerintahan.

     Jika PDI Perjuangan di luar pemerintahan dan Partai Golkar berkoalisi dengan pemerintah, kata dia, maka kekuatan suara di parlemen yang mendukung pemerintah sebanyak 421 kursi (75,17 persen).

     Sebaliknya suara yang berada di luar koalisi pendukung pemerintah yakni PDI Perjuangan, Partai Gerindra, dan Partai Hanura sebanyak 139 kursi (24,87 persen).

     "Dengan posisi tersebut maka pemerintahan Presiden Yudhoyono lima tahun ke depan akan aman dan stabil," katanya.

     Meskipun demikian, kata dia, dalam politik praktis komunikasi antarparpol pendukung Presiden tidak bisa dijamin selamanya harmonis, tapi terjadi dinamika sesuai kepentingannya.

     Menurut dia, menjelang Pemilu 2014 ada saja di antara parpol pendukung Presiden yang nantinya main mata dengan parpol di luar pendukung Presiden maupun terjadi rivalitas di antara parpol pendukung Presiden.

     "Dinamika politik terjadi karena setiap parpol berusaha mencari dukungan suara sebanyak-banyaknya dari konstituen," katanya.(*)