Wakil Gubernur (Wagub) NTB, H Badrul Munir seusai rapat koordinasi gerakan penuntasan buta aksara di Mataram, Sabtu mengatakan model pembelajaran selama 32 hari itu diadopasi dari sistem KF di Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang telah terbukti cukup berhasil dalam pemberantasan buta aksara.
Menurut rencana program model 32 hari pemberantasan buta aksara untuk NTB itu akan diluncurkan di Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur pada 2 November 2009.
"Dengan adanya terobosan tersebut kita berharap model penyelenggaraan pendidikan KF akan memberikan dampak yang sangat signifikan, sehingga pelaksanaannya membuahkan hasil yang memuaskan baik baik dalam penyelenggaraan program maupun proses pembelajarannya," ujarnya dihadapan seluruh camat se NTB.
Ia mengatakan, program pemberantasan buta aksara yang telah dilaksanakan selama ini nyaris tanpa hasil terbukti hingga kini angka penyandang buta aksara di NTB masih cukup tinggi.
Berdasarkan hasil pendataan tahun 2009 jumlahnya mencapai 392.471 orang, jumlah ini jauh di bawah rata-rata nasional.
Penyandang buta aksara tersebut terbanyak di Kabupaten Lombok Timur mencapai 124.244 orang, Lombok tengah 79.480 orang Lombok Barat 57.429 orang, Kabupaten Bima 39.507 orang, Kabupaten Lombok Utara 24.058 orang, Sumbawa 22.311 orang, Dompu 20.977 orang, Kota Mataram 19.279 orang, Kota Bima 3.979 orang dan yang paling sedikit Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 1.207 orang.
Menurut Badrul, tingginya angka penyandang buta aksara tersebut berdampak terhadap rendahnya indeks pembangunan manusia (IPM) NTB yang berada pada urutan 32 dari 33 provinsi yang ada di Indonesia.
"Saya optimistis pemberantasan buta aksara melalui sistem 32 hari itu akan berhasil, karena melibatkan camat dan aparat desa sebagai ujung tombak, karena merekalah yang lebih mengetahui secara pasti jumlah penyandang buta aksara yang ada di wilayahnya masing-masing," ujarnya.
Sementara itu Camat Pringgasela, Hamdan menyatakan siap menyukseskan program pemberantasan buta aksara melalui model 32 hari, karena berbagai persiapan telah dilakukan, jadi terhitung mulai tanggal 2 November hingga 15 Desember 2009 seluruh penyandang buta aksara di wilayahnya akan bisa dituntaskan.
Dia mengatakan, jumlah penyandang buta aksara di Kecamatan Pringgasela tercatat 5.563 orang yang tersebar di tiga desa, satu desa lainnya, yakni Desa Rempung sudah tuntas 100 persen.
Hamdan mengakui ada kendala dalam program tersebut, khususnya pada penyandang buta aksara yang usianya 68 hingga 80 tahun, mereka beralasan tidak bisa ikut belajar membaca dan menulis, karena tidak bisa melihat tanpa kaca mata.
"Ada beberapa kendala dalam pelaksanaan pemberantasan buta aksara, antara lain pada penyandang buta aksara yang usianya 68 hingga 80 tahun, mereka tidak bisa ikut belajar membaca dan menulis karena tidak memiliki kacamata, namun kami akan berupaya mengatasi kendala ini," katanya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026