
SISWA MI MATARAM BELAJAR DI KOLONG MASJID

Mataram, 4/11 (ANTARA) - Sebanyak 50 siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nahdlatul Wathan, Kelurahan Selagalas, Kota Mataram, NTB, hingga saat ini masih belajar di kolong Masjid Miftahul Khair karena tidak memiliki ruang kelas.
"Puluhan siswa tersebut sejak dua tahun lalu terpaksa harus belajar di kolong Masjid Miftahul Khair, Lingkungan Nyangget, Kelurahan Selagalas, Kota Mataram, karena ruang kelas yang kurang serta minimnya fasilitas pendukung dalam kegiatan belajar mengajar," kata Ketua Yayasan MI Nahdlatul Abror NW Akmaludin di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan selain itu kondisi bangunan di kolong masjid itu hanya berdindingkan setengah permanen yang di beberapa bagian ruang kelas menggunakan tripleks bekas yang ditutupi spanduk sudah lapuk.
"Meskipun kondisinya seperti ini, jumlah siswanya cukup banyak. Masyarakat banyak menyekolahkan anaknya di sini karena lokasi SD negeri cukup jauh," katanya.
Menurut Akmaludin meski sarana pendukung proses belajar mengajar masih kurang, tidak menyurutkan minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di madrasah ini.
jumlah siswa di MI NW Nahdlatul Abror saat ini sebanyak 50 orang yang terbagi dalam dua kelas, yakni kelas satu dan kelas dua. Semuanya belajar di kolong masjid yang kondisinya cukup memprihatinkan.
"Antusias masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah ini cukup tinggi, sehingga ini bisa dinilai sebagai suatu hal yang positif untuk membantu pemerintah dalam rangka menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun," katanya.
Kendati masih memiliki sarana dan prasarana terbatas, kata Akmaludin, pihaknya bersama pengelola yayasan betul-betul ikhlas dalam memberikan pendidikan bagi anak-anak di wilayah ini.
Menurut dia biaya operasional penyelenggaraan pendidikan di sekolah ini masih mengandalkan bantuan swadaya masyarakat sekitar. Selain itu dengan meminta bantuan kepada Pemerintah Kota Mataram dan Departemen Agama melalui proposal bantuan dana pendidikan.
"Kami sudah mengajukan proposal permohonan dana bantuan ke pemerintah dan Departemen Agama beberapa waktu lalu, tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan," katanya.
Ia berharap pemerintah mau memberikan bantuan dana baik melalui anggaran pendapatan belanja negara (APBN) maupun dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) provinsi dan kabupaten/kota.
"Saat ini sudah mendekati tahun ajaran baru 2010/2011, pasti ada tambahan kelas baru. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah," katanya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
