Mataram, 18/11 (ANTARA) - Aliansi Antimati Listrik (AAML) Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu, berunjuk rasa di gedung DPRD NTB memprotes pemadaman listrik yang sering terjadi di Kota Mataram.
"Pemadaman listrik di Kota Mataram yang sebelumnya sekali atau dua kali, kini menjadi tiga kali seminggu. Ini sangat mengganggu aktivitas masyarakat," kata Koordinator AAML Mataram Turmuzi dalam unjuk rasa yang diikuti sedikitnya 100 warga Kota Mataram.
AAML sebelum sampai di gedung DPRD NTB sempat menyampaikan orasi di perempatan Jalan Udayana Mataram, yang merupakan jalur padat lalu lintas menuju Bandara Selaparang.
Ia mengatakan Pemerintah Provinsi NTB harus mengambil langkah variatif dan tentatif untuk mengantisipasi pemadaman listrik dengan memangkas anggaran operasional untuk menyewa pembangkit listrik.
"Pemprov NTB harus memaksimalkan energi alternatif seperti angin, air, dan panas bumi untuk pengadaan mesin pembangkit," katanya.
Ia minta PLN memberikan kompensasi sebesar 50 persen sesuai UU No. 20/2002 tentang Kelistrikan. "Pasal 34 menyebutkan konsumen listrik harus mendapat pelayanan yang baik, serta mendapat tenaga listrik secara terus menerus dengan mutu dan keadaan yang baik.
"Selain itu, konsumen harus memperoleh harga listrik yang wajar dan mendapat pelayanan untuk perbaikan apabila ada gangguan listrik serta mendapat ganti rugi," katanya.
Sejumlah anggota DPRD NTB minta kepada PLN untuk segera membentuk tim percepatan pembangunan kelistrikan untuk mengatasi krisis listrik di daerah ini.
"NTB hingga kini tercatat sebagai salah satu daerah yang krisis listrik, sehingga harus dilakukan pemadaman bergilir," kata anggota DPRD NTB TGH Hazmi Hamzar.
Ia mengatakan tim tersebut tidak hanya menangani masalah krisis listrik, tetapi juga mencari sumber-sumber panas bumi yang dapat dijadikan tenaga listrik untuk menenuhi kebutuhan listrik di Pulau Lombok dan Sumbawa.
"Jika langkah itu tidak dilakukan, maka daftar tunggu sambungan listrik baru untuk 134 ribu calon pelanggan tidak mungkin dapat dilayani," katanya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026