Mataram, 19/3 (ANTARA) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nusa Tenggara Barat, Prof. H. Syaiful Muslim menegaskan, rokok hukumnya tetap makruh, karena suatu hukum yang telah ditetapkan oleh agama tidak dapat dirubah, keculai akan membawa mudarat.
"Sementara fatwa haram rokok yang dikeluarkan oleh Majelis Fatwa Muhammadiyah masih sepihak dan belum merupakan pedapat Muhammadiyah secara keseluruhan," katanya kepada ANTARA seusai menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Islamic Center NTB di Mataram, Jumat.
Menurutnya, Amin Rais yang merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah bahkan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah menolak fatwa haram rokok, apalagi MUI yang memang rokok itu hukumnya makruh.
"Kita tidak berbicara mengenai NTB merupakan salah satu daerah penghasil tembakau terbaik, lalu kita memfatwakan rokok itu makruh, tetapi memang hukumnya makruh," katanya.
Di NTB terdapat puluhan ribu petani tembakau terutama tembakau virginia kualitas ekspor, sehingga tidak heran NTB dapat cukai tembakau lebih dari Rp100 miliar, yang kemduian cukai terbut dibagi keseluruh kabupaten kota se-NTB.
"MUI dalam memfatwakan tentang makruh rokok tidak memihak kepada siapa-siapa tetapi ini murni hukum yang harus dijelaskan, sebab hukum itu ada haram, sunah, makruh dan mubah,' katanya.
Sementara itu, puluhan aktivis Forum Serikat Tani Nasional (FSKTN) NTB pada Kamis (18/3) mendatangi DPRD NTB untuk memperjuangkan nasib petani tembakau NTB yang terkendala dengan bahan bakar minyak tanah.
Menurut Ketua FSTN, kondisi pertanian termasuk petani tembakau NTB saat ini cukup memprihatinkan, karena bahan baku minyak tanah tidak lagi disubsisi pemerintah, sehingga kerugian mengancam para petani tembakau.
"Untuk itu, pemerintah harus melakukan upaya dalam membantu petani tembakau NTB terutama dalam memperoleh bahan baku minyak tanah untuk oven atau omprongan tembakau," katanya.
Bahan baku untuk omprongan tembakau virginia dilakukan banyak alternatif antara lain batu bara, elpiji dan kayu, tetapi masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Misalnya batu bara cadangan cukup banyak, namun merepotkan, elpiji harganya mahal dan kayu dampaknya merusak lingkungan.
"Sementara jumlah oven atau omprongan tembakau di NTB sekitar 15.000 diantaranya ada sekitar 6.000 oven telah dimonifikasi," katanya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026