Mataram, 26/3 (ANTARA) - Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla meminta agar dokter transfusi darah tidak ketinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu syarat meningkatkan profesionalisme.

  "Ilmu pengetahuan kedokteran akan maju 100 persen setiap tiga tahun, artinya apabila tiap tiga tahun seorang dokter tidak menambah ilmu maka pengetahuan yang sudah diperoleh sebelumnya dianggap ketinggalan," katanya saat memberikan pengarahan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan I Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI), di Hotel Sentosa Mataram, Jumat.

  Karena teknologi kedokteran yang tertinggal itulah maka banyak pasien dari keluarga yang mampu lebih memilih mendapat perawatan di rumah sakit luar negeri.

  "Jadi mengapa 50 persen golongan atas di Indonesia lari berobat ke Singapura bukan karena dokter tak mampu tetapi rumah sakit di sana mempunyai peralatan kedokteran yang lebih maju," katanya.

  Kalla meminta para dokter untuk sering membaca jurnal kesehatan, mengikuti seminar atau menambah ilmu kedokteran dari akses internet agar tidak ketinggalan ilmu yang semakin maju.

  Menurut mantan Wakil Presiden itu, pelayanan transfusi darah termasuk pengelolaan darah harus bisa dilakukan lebih berkualitas dan PMI harus mampu memproduksi lebih banyak stok darah dengan menggencarkan donor darah dari masyarakat.

  Ia mengaku, ketika melihat Laboratorium Hepatika Mataram sudah ketinggalan dari segi teknologi, segera meminta mengadakan pembaharuan teknologi agar produksi reagent untuk uji hepatitis bisa lebih banyak dan berkualitas.

  Demikian juga untuk masalah stok darah, Kalla berupaya agar Indonesia mampu menyiapkan stok darah di setiap rumah sakit minimal cukup untuk dua hari dan di Unit Transfusi Darah PMI minimal untuk empat hari.

  "Dengan stok yang cukup maka tidak ada lagi pasien yang antri mendapatkan kantong darah dan bisa meminimalisir munculnya praktek calo," katanya.

  Pada bagian lain, Kalla juga menekankan kemandirian dalam pengelolaan darah termasuk penyediaan kantung darah dan reagent uji hepatitis serta  reagent HIV buatan Indonesia.

  Ketua Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia Prof Dr  H Abdul Salam M.Sofro mengatakan, perlunya peningkatan mutu pelayanan penyediaan darah termasuk diantaranya kesiapan para dokter untuk menambah ilmu pengetahuan tentang tranfusi darah.

  Ia juga sependapat dengan Kalla tentang perlunya kemandirian dalam hal pengelolaan darah sehingga biaya pengelolaan darah bisa ditekan dan akhirnya bisa membantu meringankan beban masyarakat.

  Ia mengingatkan para tenaga Unit Transfusi Darah (UTD) dan Dokter Transfusi Darah untuk bisa memberikan pelayanan yang cepat karena urusan darah merupakan soal yang sifatnya emergency. 

  "Kadang-kadang petugas  belum bisa menempatkan diri dalam posisi pasien," katanya.

  Pada acara tanya jawab, Jusuf Kalla menerima begitu banyak usulan antara lain asuransi kesehatan bagi tenaga UTD, masih banyaknya tenaga UTD yang honorer, gedung UTD di daerah yang belum layak, dan tunggakan biaya pengelolaan darah karena klaim jamkesmas yang terlambat.

  Sebelumnya Kalla yang didampingi sejumlah pengurus PMI Pusat juga mengunjungi, Laboratorium Hepatika Mataram,  Unit Transfusi Darah PMI Lombok Barat dan Kantor PMI Cabang Nusa Tenggara Barat. 

Sabtu besok Kalla yang didampingi Ibu Mufidah akan mengadakan kunjungan ke markas PMI di Kupang dan Denpasar. (*)

  

 



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026