Oleh Wuryanti Puspitasari

          Bocah berusia sepuluh tahun itu berdiri tegar di bawah pijar matahari siang di Pantai Lakey, Dompu, Nusa Tengara Barat.

         Hembusan angin di awal Desember menghempas-hempas pipinya yang cekung dengan garis wajah yang lebih tua dari usianya.

         Kaki kurus yang menopang badan mungil berkulit legam itu terlihat rapuh ketika menapak jalan berkerikil di sekitaran bibir pantai.

         Tangan kecilnya menggenggam erat tali kekang kuda yang berukuran hampir dua kali lipat tinggi badannya.

         Sesekali bocah bernama Aditya itu mengusap leher kuda lokal Dompu di sebelahnya yang terlihat resah sambil menyapu suasana sekitarnya dengan sorot mata lantang.

         Tidak lama kemudiaan, aba-aba datang dan dia bergegas naik ke atas kuda.

         Sejurus kemudian dia mengenakan helm kecil berwarna pink dan kaos kaki panjang hingga ke bawah lutut.

         Jemari di lengan kirinya semakin mempererat genggaman pada tali kekang sementara yang sebelah kanan meremas-remas cambuk kecil.

         Cambuk itu akan ia pergunakan untuk melecut tubuh kuda, agar larinya bertambah kencang. Terakhir kali dirinya mengikuti balap kuda, dia berhasil menempuh 1.000 meter dengan waktu 1 menit 33 detik.

         Sorot matanya terus menajam begitu pertanda mulainya pertandingan mulai bermunculan, dia mencondongkan tubuhnya ke arah depan, mencoba mensejajarkan dengan kepala kuda.

         Dan kuda yang ditungganginya mulai melesat kencang ketika peluit mulai dibunyikan.

         Kaki-kaki kuda itu menghentak-hentak pasir putih di sepanjang bibir Pantai Lakey seakan tidak sabar menuju garis finish.

         Butiran pasir berhamburan ketika derap langkah hewan perkasa itu meluncur cepat, dan lebih cepat lagi ketika cambuk terus dilecut ke tubuhnya.

         Aditya, yang masih duduk di bangku sekolah dasar 24, Woja, Dompu itu tengah mengikuti pacuan kuda yang diselenggarakan pemerintah setempat bersama anak-anak lain seusianya.

         Pacuan kuda yang menjadi bagian kecil dari Festival Lakey 2010 tersebut telah melecut semangatnya untuk kembali menjadi juara.

         Penduduk lokal mengenalnya sebagai salah satu bocah penyabet juara balap kuda yang kerap digelar di kawasan itu.

         Siapa mengira, dibalik tubuh tirusnya tersembunyi keberanian yang membara. Berbagai hadiah yang dia peroleh dari hasil pertandingan sebelumnya seakan membuat dia lupa akan bahaya.

         Aditya menuturkan, dia sudah pernah jatuh dari kuda karena hewan tersebut mengamuk, untungnya bocah kecil itu tidak sampai patah tulang.

         Dia juga bercerita, bahwa dari kuda dia pernah mendapatkan televisi, piala dan uang tunai. Bagi anak berusia sepuluh tahun seperti dirinya, hadiah tersebut sangat menarik.

         Sebagai joki, Aditya tidak memiliki kuda sendiri, dia hanya menunggangi kuda milik orang lain.

         Biasanya si empunya kuda meminta dirinya untuk menunggangi sang kuda, dan mendaftarkan diri pada pertandingan pacuan kuda.

         Bahkan, agar si joki mau menunggang kuda miliknya, si empunya akan membayar dengan uang tunai dengan kisaran 25.000 hingga 100.000 untuk sekali pertandingan.

         Jika menang, maka hadiah yang disediakan panitia biasanya akan di bagi dua antara si empunya dengan sang joki.

         Karena itu, jika memenangkan pertandingan balap kuda, Aditya bukan hanya mendapatkan uang tunai dari si empunya, namun juga hadiah yang diberikan oleh panitia.

         Sementara si empunya kuda, hadiah terbesar bagi dirinya adalah kebanggaan, bahwa namanya si sebut-sebut sebagai pemilik kuda yang menyabet gelar juara.

         Bahkan terkadang, jika si empunya begitu bangga maka dia tidak mengambil hadiah yang disediakan panitia. Dia akan menyerahkan hadiah tersebut pada si joki. Si empunya cukup dengan gengsi yang melambungkan namanya.

         Pacuan kuda merupakan cerita sehari-hari di kalangan masyarakat Dompu dan sekitarnya. Kegiatan pacuan kuda merupakan agenda rutin yang kerap diadakan untuk menyambut hari-hari besar.

         Kegiatan balap kuda seakan menjadi kebiasaan tidak tertulis yang tumbuh berkembang di masyarakat setempat.
{jpg*2}
         Bukan hanya Kabupaten Dompu, bahkan wilayah tetangga yakni Kota Bima dan sekitarnya juga memiliki kebiasaan yang sama.

         Hal itu kemudian dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Dompu dan Pemerintah Kota Bima untuk menggelar Festival Lakey di Dompu yang di dalamnya juga menampilkan kegiatan balap kuda, serta Festival Kuda Bima di Bima.

         Kedua hajat besar tersebut didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

         Melalui kedua kegiatan tersebut diharapkan bisa menarik perhatian publik dan meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke wilayah tersebut.

         Dua festival yang baru diadakan tahun 2010 ini rencananya akan dijadikan agenda tahunan jika hasil evaluasi menunjukkan kegiatan tersebut bisa meningkatkan jumlah wisatawan.

         Bupati Dompu Bambang M Yasin mengatakan alasannya menggelar acara pacuan kuda di bibir pantai Lakey adalah untuk memperlihatkan kepada publik bahwa wilayah tersebut memiliki potensi pariwisata luar biasa.

         Bupati mengatakan, Pantai Lakey beberapa waktu belakangan telah menarik berbagai wisatawan asing yang gemar berselancar karena memiliki gulungan ombak yang besar.

         "Dengan adanya Festival Lakey diharapkan bisa meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke kawasan yang menjadi destinasi 'surfing' para peselancar asing," katanya. (*)