Kabinda NTB kagumi kekayaan tradisi Suku Sasak
Senin, 8 November 2021 7:00 WIB
Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Nusa Tenggara Barat, Wahyudi Adisiswanto. (ANTARA)
Senggigi, Lombok Barat (ANTARA) - Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Nusa Tenggara Barat (Kabinda NTB) Wahyudi Adisiswanto mengagumi kekayaan tradisi Suku Sasak di Pulau Lombok.
Di Mataram, Senin, ia menuturkan bahwa dalam Suku Sasak ada tradisi makan bersama atau begibung. Dalam tradisi itu, orang mendahulukan orang lain untuk makan.
"Ini berbicara tata krama," kata Wahyudi.
"Bagi Suku Sasak saling menghormati dan saling menyayangi sudah diajarkan leluhur sejak lama," katanya.
Ia mengemukakan bahwa adat dan tradisi mengajarkan nilai-nilai kebersamaan sehingga semestinya terus dijaga agar tetap lestari.
Kabinda NTB mengapresiasi penyelenggaraan Festival Bubur Beaq dan Bubur Puteq yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa Senggigi bersama Perum LKBN ANTARA Biro NTB dan Yayasan Tangan Berbagi. Festival itu digelar di Pantai Krandangan pada Sabtu (6/11).
"Acara ini merupakan inspirasi dan mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak meninggalkan nilai luhur," katanya.
Sementara itu, budayawan Sasak, Raden Muhammad Rais, menjelaskan bahwa Bubur Beaq (bubur merah) dan Bubur Puteq (bubur putih) merupakan bagian dari tradisi Suku Sasak yang ditujukan untuk mengungkapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
"Ketika Nabi Nuh mengarungi lautan dan menepi saat makanan habis di satu tempat, hingga menemukan umbi-umbian, itu lah latar belakang bubur putek dan bubur beak," katanya.
"Bubur putek bahan dasarnya pertama santan dari kelapa hijau, kedua dari tujuh umbi-umbian yang dijadikan satu. Tujuh umbi-umbian bermakna tujuh langit," katanya.
Di Mataram, Senin, ia menuturkan bahwa dalam Suku Sasak ada tradisi makan bersama atau begibung. Dalam tradisi itu, orang mendahulukan orang lain untuk makan.
"Ini berbicara tata krama," kata Wahyudi.
"Bagi Suku Sasak saling menghormati dan saling menyayangi sudah diajarkan leluhur sejak lama," katanya.
Ia mengemukakan bahwa adat dan tradisi mengajarkan nilai-nilai kebersamaan sehingga semestinya terus dijaga agar tetap lestari.
Kabinda NTB mengapresiasi penyelenggaraan Festival Bubur Beaq dan Bubur Puteq yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa Senggigi bersama Perum LKBN ANTARA Biro NTB dan Yayasan Tangan Berbagi. Festival itu digelar di Pantai Krandangan pada Sabtu (6/11).
"Acara ini merupakan inspirasi dan mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak meninggalkan nilai luhur," katanya.
Sementara itu, budayawan Sasak, Raden Muhammad Rais, menjelaskan bahwa Bubur Beaq (bubur merah) dan Bubur Puteq (bubur putih) merupakan bagian dari tradisi Suku Sasak yang ditujukan untuk mengungkapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
"Ketika Nabi Nuh mengarungi lautan dan menepi saat makanan habis di satu tempat, hingga menemukan umbi-umbian, itu lah latar belakang bubur putek dan bubur beak," katanya.
"Bubur putek bahan dasarnya pertama santan dari kelapa hijau, kedua dari tujuh umbi-umbian yang dijadikan satu. Tujuh umbi-umbian bermakna tujuh langit," katanya.
Pewarta : Riza Fahriza*Ni Wayan Dewi
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Majelis Adat Sasak Lombok usung paradigma baru yang inklusif dan egaliter
09 December 2025 17:03 WIB
Promosikan budaya lokal, Aruna Senggigi siapkan pengalaman berpakaian adat Suku Sasak bagi tamu
24 July 2024 8:31 WIB, 2024
Pemain Timnas Indonesia Witan Sulaiman menikah di Palu gunakan adat Suku Sasak Lombok
30 May 2022 21:24 WIB, 2022
Institut Elkatarie di Mataram menggelar wisuda dengan tradisi "besembek"
01 December 2024 19:39 WIB, 2024