Bupati Klungkung kenalkan "Menyama Braya" hadapi bencana
Sabtu, 28 Mei 2022 21:38 WIB
Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta (kanan) memberi sambutan saat menyambut kedatangan delegasi asing GPDRR 2022 di Kerta Gosa, Klungkung, Bali, Sabtu (28/5/2022). ANTARA/Genta Tenri Mawangi
Klungkung (ANTARA) - Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta memperkenalkan falsafah hidup masyarakat Bali “Menyama Braya” dalam aksi kesiapsiagaan bencana kepada delegasi asing GPDRR 2022 yang mengikuti sesi studi lapangan (field trip) ke Kerta Gosa, Sabtu.
Ia menjelaskan Menyama Braya secara sederhana diartikan sebagai semangat gotong royong pada tiap aspek kehidupan, termasuk saat menghadapi bencana.
Suwirta mencontohkan saat bencana letusan Gunung Agung pada 2017 semangat Menyama Braya itu ditunjukkan oleh masyarakat Klungkung yang sigap membantu pengungsi dari Karangasem tanpa menunggu perintah pemerintah daerah.
“Kemanusiaan jauh lebih penting daripada (menunggu) instruksi, saat itu kearifan lokal semangat Menyama Braya kuat dalam menangani dan memitigasi kejadian-kejadian bencana,” kata Suwirta usai menyambut para delegasi asing yang mengikuti field trip Sesi Ke-7 GPDRR 2022.
Baca juga: GPDRR 2022 ditutup dengan hasil "Bali Agenda for Resilience"
Bencana letusan Gunung Api yang terjadi pada 2017 di Karangasem menyebabkan lebih dari 40.000 orang mengungsi, dan sekitar 23.000 di antaranya berada di Klungkung, salah satu kabupaten terdekat dari lokasi erupsi.
Para pengungsi itu menempati 114 tempat penampungan di Klungkung, yang di antaranya merupakan banjar-banjar desa adat. Oleh karena itu, ia berharap pengalaman masyarakat Klungkung di Bali, yaitu semangat Menyama Braya-nya dapat jadi inspirasi bagi para delegasi untuk memikirkan pentingnya kearifan lokal dalam aksi kesiapsiagaan bencana. “Kami yakin di tempat mereka ada kearifan lokal yang bisa dilakukan untuk menangani bencana,” kata Suwirta.
Tidak hanya itu, Bupati Klungkung menyampaikan masyarakat Bali juga punya semangat "puputan" dalam menjalani hidup sehari-hari, termasuk saat menghadapi bencana.
"Puputan" merupakan kata dalam Bahasa Bali yang berarti perang sampai darah penghabisan. Meskipun saat ini tidak ada lagi perang, semangat "puputan" masih digelorakan oleh masyarakat Bali terutama dalam menangani bencana sampai tuntas, kata Suwirta saat menjelaskan makna Monumen Puputan di Klungkung kepada para delegasi asing.
Usai mendengar penjelasan itu, salah satu delegasi, Delvina dari Care International menyampaikan ia sepakat bahwa kearifan lokal perlu jadi sorotan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana. “Kita harus siap dari tingkat komunitas,“ kata Delvina, delegasi dari Timor Leste, saat ditemui di Kerta Gosa, Klungkung, Sabtu.
Ia menjelaskan Menyama Braya secara sederhana diartikan sebagai semangat gotong royong pada tiap aspek kehidupan, termasuk saat menghadapi bencana.
Suwirta mencontohkan saat bencana letusan Gunung Agung pada 2017 semangat Menyama Braya itu ditunjukkan oleh masyarakat Klungkung yang sigap membantu pengungsi dari Karangasem tanpa menunggu perintah pemerintah daerah.
“Kemanusiaan jauh lebih penting daripada (menunggu) instruksi, saat itu kearifan lokal semangat Menyama Braya kuat dalam menangani dan memitigasi kejadian-kejadian bencana,” kata Suwirta usai menyambut para delegasi asing yang mengikuti field trip Sesi Ke-7 GPDRR 2022.
Baca juga: GPDRR 2022 ditutup dengan hasil "Bali Agenda for Resilience"
Bencana letusan Gunung Api yang terjadi pada 2017 di Karangasem menyebabkan lebih dari 40.000 orang mengungsi, dan sekitar 23.000 di antaranya berada di Klungkung, salah satu kabupaten terdekat dari lokasi erupsi.
Para pengungsi itu menempati 114 tempat penampungan di Klungkung, yang di antaranya merupakan banjar-banjar desa adat. Oleh karena itu, ia berharap pengalaman masyarakat Klungkung di Bali, yaitu semangat Menyama Braya-nya dapat jadi inspirasi bagi para delegasi untuk memikirkan pentingnya kearifan lokal dalam aksi kesiapsiagaan bencana. “Kami yakin di tempat mereka ada kearifan lokal yang bisa dilakukan untuk menangani bencana,” kata Suwirta.
Tidak hanya itu, Bupati Klungkung menyampaikan masyarakat Bali juga punya semangat "puputan" dalam menjalani hidup sehari-hari, termasuk saat menghadapi bencana.
"Puputan" merupakan kata dalam Bahasa Bali yang berarti perang sampai darah penghabisan. Meskipun saat ini tidak ada lagi perang, semangat "puputan" masih digelorakan oleh masyarakat Bali terutama dalam menangani bencana sampai tuntas, kata Suwirta saat menjelaskan makna Monumen Puputan di Klungkung kepada para delegasi asing.
Usai mendengar penjelasan itu, salah satu delegasi, Delvina dari Care International menyampaikan ia sepakat bahwa kearifan lokal perlu jadi sorotan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan bencana. “Kita harus siap dari tingkat komunitas,“ kata Delvina, delegasi dari Timor Leste, saat ditemui di Kerta Gosa, Klungkung, Sabtu.
Pewarta : Genta Tenri Mawangi
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024