Mataram, 26/2 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendukung program wisatawan berkualitas yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Bali setelah mencapai angka kunjungan wisatawan yang tergolong banyak untuk ukuran pulau wisata yang luasnya tidak sampai satu persen dari luas Indonesia.
"Memang sudah harus seperti itu, dan kami (NTB, Red) mendukungnya. Bali harus fokus pada wisatawan berkualitas karena angka kunjungan wisatawannya sudah banyak, dan itu memberi pilihan bagi wisatawan untuk ke Lombok," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H Lalu Gita Aryadi, yang dihubungi di Mataram, Minggu.
Gita mengaku serius saat menyimak pemaparan Asisten II Setda Bali Ketut Wija, yang mewakili Gubernur Bali untuk memaparkan kebutuhan SDM dan iptek guna mendukung implementasi Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 koridor V, dalam pertemuan dialog yang digelar di Mataram, Jumat (24/2).
Pertemuan dialog itu dihadiri Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta beserta pimpinan tujuh lembaga peniliti yang tergabung dalam Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) Riset dan Teknologi (Ristek).
Pertemuan dialog itu diawali dengan paparan dari tiga gubernur atau pejabat yang mewakili Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Provinsi Bali tergabung dalam koridor V bersama NTB dan NTT. Koridor V ditetapkan sebagai kawasan pendukung pariwisata dan pangan nasional.
Dalam pemaparannya, Wija mengatakan, Pemprov Bali mulai fokus mendatangkan wisatawan berkualitas, atau tidak lagi mengutamakan jumlah kunjungan wisatawan karena angka kunjungan sudah dianggap tinggi untuk ukuran Pulau Bali.
Luas Pulau Bali secara keseluruhan mencapai 5.636,66 kilometer persegi atau 0,29 persen dari luas kepulauan Indonesia.
"Kami tidak lagi mengutamakan kunjungan wisatawan dari aspek kuantitas saja, tetapi kualitas," ujarnya.
Wija menyebut Pulau Bali telah dihuni lebih dari 10 juta orang. Penduduk Bali terdata sebanyak empat juta orang, dan jumlah wisatawan mancanegara rata-rata mencapai 2,6 hingga 2,7 juta setiap tahun, serta lima sampai enam juta wisatawan domestik setiap tahun.
Selain itu, setiap tahun jumlah warga Indonesia yang datang dan bekerja di Bali rata-rata mencapai 100 ribu orang lebih. Sejak tiga tahun terakhir ini, jumlah pendatang yang mencari kerja di Bali mencapai 400 ribu orang atau lebih dari 100 ribu orang setiap tahun.
"Ini masalah karena jumlah kunjungan wisatawan sudah lebih dari tujuh juta orang baik mancanegara maupun domestik. Tentu kebanyakan orang di Bali juga ada dampak yang kurang bagus, sehingga kami mulai fokus pada wisatawan berkualitas, jangan hanya wisatawan murah," ujarnya.
Wija mendefinisikan wisatawan berkualitas yakni wisatawan yang lama nginap di Bali relatif panjang, dan membawa uang yang banyak sehingga aktif berbelanja. Dengan begitu, perekonomian Bali makin terdongkrak dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Bali sampai 2011 mencapai 6,54 persen, dan diprediksi mencapai 6,67 persen di 2012. Diharapkan terus meningkat agar dapat mencapai tujuh persen di akhir 2013 atau diakhir masa jabatan Gubernur Bali saat ini.
Jumlah pengangguran terbuka di Bali terdata sebanyak 43 ribu orang, dan itu semakin menjadi masalah karena jumlah pendatang yang bekerja di Bali rata-sata setiap tahun mencapai 100 ribu orang lebih.
"Kalau angka kemiskinan di Bali saat ini mencapai 3,65 persen, dan meski angka itu masuk kategori terendah nomor dua secara nasional, namun kami menganggap masih tinggi karena kehidupan di Bali sangat kompetitif," ujar Wija.
Dalam pertemuan dialog itu, Gita menyempatkan diri mengoreksi orientasi Pemprov Bali yang menurutnya terlambat fokus pada wisatawan berkualitas, sehingga pulau wisata itu sarat wisatawan, termasuk wisatawan "one dolar" atau wisatawan ekonomi lemah.
Gita berdalih, jika sejak tiga tahun terakhir Bali fokus pada wisatawan "kaya" maka hal itu memberi ruang pilihan bagi wisatawan untuk datang ke Pulau Lombok dan Sumbawa.
"Dari dulu mestinya, tapi kami mendukung upaya itu dan berharap ada dampaknya bagi kemajuan pariwisata di wilayah NTB," ujar Gita ketika menjelaskan kembali ide koreksinya dalam pertemuan dialog itu. (*)