RSUD Mataram tetap menerapkan prokes kendati PPKM dicabut
Senin, 16 Januari 2023 16:49 WIB
Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/Nirkomala)
Mataram (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, hingga kini tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) di areal rumah sakit kendati pemerintah telah mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Mataram dr Ni Ketut Eka Nurhayati di Mataram, Senin, mengatakan penerapan prokes di areal rumah sakit sebagai upaya perlindungan diri meskipun pemerintah mencabut PPKM.
"Meskipun PPKM sudah dicabut, tapi status pandemi COVID-19 belum dicabut jadi endemik. Jadi kita harus tetap waspada, terutama para tenaga kesehatan," katanya.
Kondisi itu, katanya, berbeda dengan lingkungan di luar rumah sakit dengan memberikan kelonggaran prokes sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Di lingkungan rumah sakit, katanya, semua petugas medis dan non-medis di RSUD Kota Mataram serta pasien dan pengunjung yang datang ke rumah sakit harus menerapkan prokes, terutama menggunakan masker.
Pasalnya, tingkat persentase kasus positif atau "positivity rate" COVID-19 hingga saat ini masih ditemukan, meskipun kecil yakni hanya 2-3 orang.
"Angka positivity rate dalam sehari 2-3 orang. Itu pun mereka memiliki penyakit komorbid. Kalau yang tanpa gejala, paling isolasi mandiri dan enam hari ke depan sudah pulih," katanya.
Terkait dengan itu, katanya, dua lantai ruang isolasi pasien COVID-19 hingga saat ini masih disiapkan, termasuk untuk ruang operasi khusus penyakit menular.
Apabila status pandemi sudah dicabut menjadi endemik, barulah RSUD Kota Mataram akan mengalihkan fungsi ruang isolasi misalnya untuk pasien-pasien penyakit menular, seperti TBC, hepatitis, HIV dan lainnya.
"Jadi dua lantai ruang isolasi pasien COVID-19 hingga saat ini fungsinya tidak kita rubah meskipun status PPKM dicabut," katanya.
Direktur Utama (Dirut) RSUD Kota Mataram dr Ni Ketut Eka Nurhayati di Mataram, Senin, mengatakan penerapan prokes di areal rumah sakit sebagai upaya perlindungan diri meskipun pemerintah mencabut PPKM.
"Meskipun PPKM sudah dicabut, tapi status pandemi COVID-19 belum dicabut jadi endemik. Jadi kita harus tetap waspada, terutama para tenaga kesehatan," katanya.
Kondisi itu, katanya, berbeda dengan lingkungan di luar rumah sakit dengan memberikan kelonggaran prokes sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Di lingkungan rumah sakit, katanya, semua petugas medis dan non-medis di RSUD Kota Mataram serta pasien dan pengunjung yang datang ke rumah sakit harus menerapkan prokes, terutama menggunakan masker.
Pasalnya, tingkat persentase kasus positif atau "positivity rate" COVID-19 hingga saat ini masih ditemukan, meskipun kecil yakni hanya 2-3 orang.
"Angka positivity rate dalam sehari 2-3 orang. Itu pun mereka memiliki penyakit komorbid. Kalau yang tanpa gejala, paling isolasi mandiri dan enam hari ke depan sudah pulih," katanya.
Terkait dengan itu, katanya, dua lantai ruang isolasi pasien COVID-19 hingga saat ini masih disiapkan, termasuk untuk ruang operasi khusus penyakit menular.
Apabila status pandemi sudah dicabut menjadi endemik, barulah RSUD Kota Mataram akan mengalihkan fungsi ruang isolasi misalnya untuk pasien-pasien penyakit menular, seperti TBC, hepatitis, HIV dan lainnya.
"Jadi dua lantai ruang isolasi pasien COVID-19 hingga saat ini fungsinya tidak kita rubah meskipun status PPKM dicabut," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tes urine positif THC, Pelaku pembunuhan ibu kandung di Mataram terindikasi ganja
30 January 2026 18:39 WIB
Manfaatkan AI, UMMAT perkuat daya saing dosen di jurnal Internasional bereputasi
29 January 2026 19:00 WIB
Lihat Juga
Anggota DPD RI Lia Istifhama apresiasi program revitalisasi sekolah, Jatim tertinggi usulan Nasional
30 January 2026 17:35 WIB
Senator Lia Istifhama: Penyederhanaan verifikasi BPJS perkuat perlindungan dana jamaah haji
30 January 2026 17:29 WIB