Usaid Bantu BPBD Bima Kurangi Risiko Bencana
Jumat, 20 Maret 2015 23:36 WIB
Mataram, (Antara NTB) - United States Agency for International Development (USAID) memberikan pelatihan peningkatan kapasitas bagi aparat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, dalam rangka mengurangi risiko bencana.
"USAID mendukung pelatihan yang digelar tanggal 18-19 Maret 2015, dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana," kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bima Muzakkir, di Bima.
Disebutkan, USAID adalah Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika yang berdiri independen dan bertanggung jawab atas bantuan untuk bidang ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan untuk negara-negara lain di dunia dalam mendukung tujuan-tujuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Kegiatan pelatihan yang diberikan oleh USAID juga didukung oleh "World Neighbors", Lembaga Swadaya Masyarakat Gempita.
Muzakkir mengatakan perubahan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini telah menimbulkan dampak yang luas terhadap kehidupan, baik di tingkat masyarakat maupun pemerintah.
Perubahan tersebut telah berdampak pada perubahan musim yang sulit diprediksi, sehingga kalender tanam dan pengaturan pola tanam pada bidang pertanian lahan kering sering tidak tepat dengan perubahan musim.
Hal itu, lanjutnya, tentu saja sangat memengaruhi sumber-sumber penghidupan masyarakat, baik pangan maupun pendapatan, di mana sebagian besar masyarakat Bima mengandalkan sumber mata pencaharian dari sektor pertanian yang sangat tergantung pada curah hujan.
"Perubahan iklim juga berpengaruh terhadap bencana, di mana beberapa wilayah terjadi hujan yang berlebihan, sehingga terjadi banjir dan longsor," katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima H Sumarsono, menjelaskan kewenangan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana, menetapkan pedoman dan arahan, standar kebutuhan saat bencana serta menyusun dan menyebarkan informasi peta rawan bencana.
Selain itu, menyusun prosedur tetap (protap) penanganan bencana dan melaksanakan tanggap bencana.
Di tingkat lapangan, kata dia, saat ini di Kabupaten Bima, sering tidak menentu iklimnya dan menimbulkan bencana kekeringan.
Di sisi lain, sarana yang dimiliki BPBD dalam penanganan kekeringan, seperti tangki air minum untuk warga ketika menghadapi bencana kekeringan belum ada. Padahal, fasilitas itu dibutuhkan pada saat musim kemarau.
"Inilah yang perlu kita tangani bersama. Mudahan melalui pelatihan ini, semua pihak bisa mengambil peran dalam upaya menekan risiko bencana," ujarnya. (*)
"USAID mendukung pelatihan yang digelar tanggal 18-19 Maret 2015, dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana," kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bima Muzakkir, di Bima.
Disebutkan, USAID adalah Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika yang berdiri independen dan bertanggung jawab atas bantuan untuk bidang ekonomi, pembangunan, dan kemanusiaan untuk negara-negara lain di dunia dalam mendukung tujuan-tujuan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Kegiatan pelatihan yang diberikan oleh USAID juga didukung oleh "World Neighbors", Lembaga Swadaya Masyarakat Gempita.
Muzakkir mengatakan perubahan iklim yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini telah menimbulkan dampak yang luas terhadap kehidupan, baik di tingkat masyarakat maupun pemerintah.
Perubahan tersebut telah berdampak pada perubahan musim yang sulit diprediksi, sehingga kalender tanam dan pengaturan pola tanam pada bidang pertanian lahan kering sering tidak tepat dengan perubahan musim.
Hal itu, lanjutnya, tentu saja sangat memengaruhi sumber-sumber penghidupan masyarakat, baik pangan maupun pendapatan, di mana sebagian besar masyarakat Bima mengandalkan sumber mata pencaharian dari sektor pertanian yang sangat tergantung pada curah hujan.
"Perubahan iklim juga berpengaruh terhadap bencana, di mana beberapa wilayah terjadi hujan yang berlebihan, sehingga terjadi banjir dan longsor," katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima H Sumarsono, menjelaskan kewenangan pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana adalah merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana, menetapkan pedoman dan arahan, standar kebutuhan saat bencana serta menyusun dan menyebarkan informasi peta rawan bencana.
Selain itu, menyusun prosedur tetap (protap) penanganan bencana dan melaksanakan tanggap bencana.
Di tingkat lapangan, kata dia, saat ini di Kabupaten Bima, sering tidak menentu iklimnya dan menimbulkan bencana kekeringan.
Di sisi lain, sarana yang dimiliki BPBD dalam penanganan kekeringan, seperti tangki air minum untuk warga ketika menghadapi bencana kekeringan belum ada. Padahal, fasilitas itu dibutuhkan pada saat musim kemarau.
"Inilah yang perlu kita tangani bersama. Mudahan melalui pelatihan ini, semua pihak bisa mengambil peran dalam upaya menekan risiko bencana," ujarnya. (*)
Pewarta : Awaludin
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menbud Fadli Zon membuka "Rendang untuk Sumatera", salurkan 17.000 paket rendang
02 March 2026 8:11 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024