Peraih emas Asian Games terima beasiswa IPB
Kamis, 18 Oktober 2018 14:49 WIB
Hening Paradigma peraih medali emas Asian Games 2018 di nomor Ketepatan Mendarat beregu putra cabang olahraga Paralayang. (ANTARA/ Laily Rahmawaty)
Bogor (Antaranews NTB) - Atlet Paralayang peraih emas Asian Games 2018 nomor ketepatan mendarat beregu putra, Hening Paradigma, menerima tawaran beasiswa pascasarjana dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
"Beasiswa diberikan untuk studi lanjut jenjang S2 di IPB atas nama Hening Paradigma, mendaftar di program studi S2 ilmu pangan untuk tahun 2019," kata Rektor IPB, Dr Arif Satria, di Bogor, Rabu.
Ia mengatakan pemberian beasiswa wujud kepedulian IPB di bidang sumber daya manusia, terhadap masa depan pendidikan masyarakat yang berprestasi internasional.
Pada malam penutupan Asian Games, 2 September 2018, IPB telah mengumumkan pemberian beasiswa bagi atlet peraih emas Asian Games sebagai kontribusi kampus dalam ikut serta memajukan masa depan para pejuang olahraga.
"Pendidikan itu untuk jangka panjang, agar atlet Indonesia tidak hanya profesional di bidang olahraga, tapi juga di luar olahraga," kata Arif.
Hening Paradigma saat dihubungi Antara mengatakan bahwa pendidikan itu penting karena dapat meningkatkan derajat kehidupan seseorang.
Menurut dia, tawaran beasiswa IPB di program studi S2 ilmu pangan sejalan dengan minat dan usaha kuliner yang tengah ditekuninya.
"Aku sudah mempelajari kurikulum ilmu teknik pangan dan sangat sesuai dengan kebutuhanku," kata Hening yang merupakan lulusan Teknik Industri Universitas Trisaksi itu.
Selain menjadi atlet, pemegang rekor MURI penerbang terjauh 109 km pada 2012 itu juga merambah bisnis kuliner lewat usaha produksi keripik cireng dan brownis meleleh.
Berbisnis di bidang kuliner menjadi alasan pemuda 32 tahun itu mengambil program studi Ilmu Pangan di IPB. "Tujuan prodi ini adalah membuat industri besar, sedangkan aku ingin menciptakan makanan enak, murah," katanya.
Pria yang akrab disapa Digma itu, mengakui aktivitas sebagai atlet yang lebih banyak fokus pada latihan sering menjadikan pendidikan sebagai pilihan kedua. Namun, Hening memandang pendidikan dan ilmu untuk diaplikasikan.
Menurut dia, pendapat ini terbukti saat dirinya bertanding di Asian Games yang dibanding kompetitor lain, dirinya bisa masuk squad dengan relatif mudah karena bantuan ilmu.
"Ilmu memperpendek fase `trial and error`. Pendidikan membuat atlet menjadi mandiri, memiliki banyak opsi untuk berikhtiar mencari rezeki," katanya.
"Beasiswa diberikan untuk studi lanjut jenjang S2 di IPB atas nama Hening Paradigma, mendaftar di program studi S2 ilmu pangan untuk tahun 2019," kata Rektor IPB, Dr Arif Satria, di Bogor, Rabu.
Ia mengatakan pemberian beasiswa wujud kepedulian IPB di bidang sumber daya manusia, terhadap masa depan pendidikan masyarakat yang berprestasi internasional.
Pada malam penutupan Asian Games, 2 September 2018, IPB telah mengumumkan pemberian beasiswa bagi atlet peraih emas Asian Games sebagai kontribusi kampus dalam ikut serta memajukan masa depan para pejuang olahraga.
"Pendidikan itu untuk jangka panjang, agar atlet Indonesia tidak hanya profesional di bidang olahraga, tapi juga di luar olahraga," kata Arif.
Hening Paradigma saat dihubungi Antara mengatakan bahwa pendidikan itu penting karena dapat meningkatkan derajat kehidupan seseorang.
Menurut dia, tawaran beasiswa IPB di program studi S2 ilmu pangan sejalan dengan minat dan usaha kuliner yang tengah ditekuninya.
"Aku sudah mempelajari kurikulum ilmu teknik pangan dan sangat sesuai dengan kebutuhanku," kata Hening yang merupakan lulusan Teknik Industri Universitas Trisaksi itu.
Selain menjadi atlet, pemegang rekor MURI penerbang terjauh 109 km pada 2012 itu juga merambah bisnis kuliner lewat usaha produksi keripik cireng dan brownis meleleh.
Berbisnis di bidang kuliner menjadi alasan pemuda 32 tahun itu mengambil program studi Ilmu Pangan di IPB. "Tujuan prodi ini adalah membuat industri besar, sedangkan aku ingin menciptakan makanan enak, murah," katanya.
Pria yang akrab disapa Digma itu, mengakui aktivitas sebagai atlet yang lebih banyak fokus pada latihan sering menjadikan pendidikan sebagai pilihan kedua. Namun, Hening memandang pendidikan dan ilmu untuk diaplikasikan.
Menurut dia, pendapat ini terbukti saat dirinya bertanding di Asian Games yang dibanding kompetitor lain, dirinya bisa masuk squad dengan relatif mudah karena bantuan ilmu.
"Ilmu memperpendek fase `trial and error`. Pendidikan membuat atlet menjadi mandiri, memiliki banyak opsi untuk berikhtiar mencari rezeki," katanya.
Pewarta : -
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Nilai rata-rata UTBK terbaru, ITB jadi kampus yang persentasenya paling tinggi di 2024
14 June 2024 8:43 WIB, 2024
IPB mengupayakan lima langkah pencarian mahasiswa hilang di Pulau Sempu
29 December 2023 10:46 WIB, 2023
Ratusan mahasiswa IPB terjerat pinjaman online antara Rp3 juta sampai Rp13 juta
15 November 2022 16:50 WIB, 2022
Direktur RSUD NTB janjikan bonus bagi atlet bola sundul peraih medali emas
27 July 2025 20:12 WIB, 2025
Peraih medali emas Huang Ya Qiong susul Zheng Si Wei pensiun dari bulu tangkis
02 January 2025 4:51 WIB, 2025
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
Wagub Dinda hadiri HUT Yafama NW, kobarkan semangan perjuangan dan pendidikan
26 August 2026 11:25 WIB
Prof Ari Purbayanto kembali pimpin API, susunan pengurus 2026-2031 dideklarasikan
08 August 2026 23:59 WIB
Dispar NTB: tren kunjungan wisata Mandalika terus meningkat berkat penyelenggaraan event
30 July 2026 14:07 WIB