Hoaks marak akibat media mainstream dianggap partisan
Jumat, 2 November 2018 9:29 WIB
Masyarakat perlu kenali cara berinternet. Koordinator Relawan Edukasi Antihoax Indonesia (Redaxi) Astari Yanuarti (ketiga dari kiri) dalam Dialog Nasional Tata Kelola Internet di Jakarta, Kamis (1/11) menilai upaya sosialisasi anti hoaks kepada masyarakat penting dilakukan.(Antara/Agita Tarigan).
Jakarta, (Antaranews NTB) - Penyebaran kabar bohong atau hoaks kini semakin marak karena masyarakat mulai beralih dari media mainstream yang dianggap partisan, kata Koordinator Relawan Edukasi Antihoax Indonesia (Redaxi) Astari Yanuarti di Jakarta, Kamis.
Astari mengungkapkan ada anggapan di masyarakat bahwa banyak berita yang saat ini disiarkan media mainstream dinilai berpihak pada kelompok tertentu.
"Masyarakat sudah tahu kalau pemilik media di Indonesia itu juga kebanyakan tokoh politik. Mereka juga tahu pemilik-pemilik media itu mendukung pemimpin ini atau ajaran yang itu," ujar dia.
Ketidaknetralan itu yang membuat masyarakat banyak berpaling dan kemudian mencari acuan informasi lain, yang dirasa cocok dengan pandangan hidup mereka, kata dia.
Cek fakta: "Suspend" akun media sosial tidak efektif halau hoaks
"Di situlah seringkali masyarakat mengenal akun-akun yang menyebarkan kabar bohong, tapi banyak yang tidak sadar itu hoaks karena informasi yang disajikan memuat dasar hidup mereka. Misalnya, soal agama, ajaran, atau kepercayaan mereka," tutur Astari.
"Berita-berita yang sesuai keyakinan itu otomatis akan membuat mereka nyaman. Tentunya tidak akan ada keraguan untuk menyebarluaskan informasi itu," kata dia.
Cek fakta: Hoaks sulit diberantas
kondisi itu, kata Astari, bisa menjadi "cambuk" bagi para pemilik dan pengelola media mainstream, sehingga ke depannya media diharapkan dapat lebih memperhatikan kode etik jurnalistik untuk menghasilkan karya jurnalistik bagi masyarakat.
Astari mengungkapkan ada anggapan di masyarakat bahwa banyak berita yang saat ini disiarkan media mainstream dinilai berpihak pada kelompok tertentu.
"Masyarakat sudah tahu kalau pemilik media di Indonesia itu juga kebanyakan tokoh politik. Mereka juga tahu pemilik-pemilik media itu mendukung pemimpin ini atau ajaran yang itu," ujar dia.
Ketidaknetralan itu yang membuat masyarakat banyak berpaling dan kemudian mencari acuan informasi lain, yang dirasa cocok dengan pandangan hidup mereka, kata dia.
Cek fakta: "Suspend" akun media sosial tidak efektif halau hoaks
"Di situlah seringkali masyarakat mengenal akun-akun yang menyebarkan kabar bohong, tapi banyak yang tidak sadar itu hoaks karena informasi yang disajikan memuat dasar hidup mereka. Misalnya, soal agama, ajaran, atau kepercayaan mereka," tutur Astari.
"Berita-berita yang sesuai keyakinan itu otomatis akan membuat mereka nyaman. Tentunya tidak akan ada keraguan untuk menyebarluaskan informasi itu," kata dia.
Cek fakta: Hoaks sulit diberantas
kondisi itu, kata Astari, bisa menjadi "cambuk" bagi para pemilik dan pengelola media mainstream, sehingga ke depannya media diharapkan dapat lebih memperhatikan kode etik jurnalistik untuk menghasilkan karya jurnalistik bagi masyarakat.
Pewarta : Agita Tarigan
Editor : Nur Imansyah
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPJS Kesehatan-MUI kolaborasi menjadikan khutbah media sosialisasikan JKN
09 February 2026 17:56 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024