Mataram (ANTARA) - Mobilitas warga yang meningkat tajam selama Ramadhan selalu membawa dua wajah, yakni semangat spiritual yang menguat dan kerentanan sosial yang ikut meninggi. 

Di Mataram, lonjakan arus kendaraan menjelang berbuka, keramaian pusat takjil, serta aktivitas malam hari menjadi pola berulang saban tahun. Dalam konteks ini, pengamanan bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan ujian nyata kapasitas tata kelola daerah.

Pada Apel Siaga Kamtibmas Ramadhan 1447 Hijriah di Lapangan Bhara Daksa Polda NTB, Gubernur Lalu Muhamad Iqbal menekankan pentingnya memperketat penjagaan di pusat keramaian, pasar, terminal, tempat ibadah, hingga lokasi aktivitas malam. 

Pesan ini relevan karena Ramadhan adalah fase dengan intensitas pergerakan sosial yang tinggi. Setiap simpul keramaian menyimpan potensi gangguan, dari kemacetan hingga gesekan antarwarga.

Data pemetaan lalu lintas menunjukkan puncak kepadatan terjadi satu hingga dua jam sebelum berbuka. Faktor psikologis seperti keinginan tiba tepat waktu untuk berbuka kerap membuat pengendara abai pada keselamatan. 

Penempatan personel di titik macet dan pengaturan arus memang membantu, tetapi pendekatan represif tidak cukup. Rekayasa sosial perlu diperkuat seperti pengaturan jam operasional pasar, penyediaan kantong parkir sementara, serta kampanye masif etika berkendara selama puasa melalui kanal resmi pemerintah.

Kerawanan juga muncul di ruang sosial. Razia aparat di wilayah Pagutan yang mengamankan 14 remaja beserta tujuh sepeda motor menegaskan bahwa titik rawan bukan hanya ruang fisik, melainkan juga dinamika anak muda yang mencari ekspresi. 

Perang petasan, balap liar, hingga aktivitas berindikasi taruhan memperlihatkan energi yang tidak tersalurkan. Pendekatan pembinaan yang melibatkan orang tua patut diapresiasi karena selaras dengan prinsip keadilan restoratif. Namun pembinaan tidak boleh berhenti pada surat pernyataan.

Pemerintah daerah bersama aparat desa perlu mendorong agenda alternatif seperti lomba olahraga malam, festival beduk, kajian remaja, hingga gerakan berbagi takjil yang terorganisasi. 

Remaja masjid, karang taruna, dan komunitas lokal dapat dilibatkan sebagai mitra strategis. Keamanan partisipatif melalui posko berbasis warga yang didukung pelatihan dan anggaran harus menjadi gerakan kolektif, bukan sekadar jargon.

Di sisi lain, pengawasan terhadap peredaran petasan ilegal dan judi daring menuntut adaptasi. Pola kejahatan kini bergerak ke ruang digital. Tanpa literasi hukum dan pengawasan siber yang memadai, euforia Ramadhan bisa dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab. 

Karena itu, strategi pengamanan perlu bertumpu pada tiga pilar: penguatan data dan pemetaan risiko berbasis teknologi seperti kamera pemantau dan integrasi laporan warga; edukasi berkelanjutan jauh sebelum Ramadhan; serta pemberdayaan komunitas sebagai garda terdepan pencegahan.

Hingga awal Ramadhan 1447 H, situasi kamtibmas di NTB dilaporkan kondusif. Modal sosial ini--tradisi religius, solidaritas komunitas, dan gotong royong--adalah fondasi penting. 

Stabilitas bukan tujuan akhir, melainkan pijakan untuk perbaikan berkelanjutan. Komunikasi publik yang transparan juga krusial agar isu kecil tidak berkembang menjadi keresahan luas di tengah derasnya arus informasi dan hoaks.

Pengamanan Ramadhan pada akhirnya adalah cermin kedewasaan kolektif. Negara hadir untuk memastikan warga beribadah dengan tenang, tetapi keberhasilan tidak mungkin dicapai tanpa partisipasi masyarakat. 

Keamanan bukan proyek musiman, melainkan budaya yang dirawat dari rumah, dari jalanan, dan dari kesadaran bersama bahwa menjaga ketertiban adalah bagian dari ibadah.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - NTB dan lompatan ekonomi syariah
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata ulang mesin ekonomi NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Menata ruang ngabuburit sebagai wajah sosial NTB
Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Retaknya perlindungan santriwati di pesantren NTB