Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan cuaca ekstrem harian yang saat ini terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi penanda sedang memasuki fase pancaroba atau peralihan musim dari penghujan menuju kemarau.
"Kondisi panas saat pagi hingga siang hari, kemudian terjadi hujan ketika sore hari merupakan tanda masa pancaroba," kata Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto di Mataram, Senin.
Ari menjelaskan perubahan cuaca ekstrem dalam satu hari tersebut dipicu oleh pemanasan permukaan bumi yang tinggi sejak pagi hingga siang.
Pemanasan permukaan bumi yang intens tersebut lantas memicu pembentukan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan skala lokal di suatu wilayah.
"Hal ini diperkuat dengan adanya pergesekan massa udara dingin dan panas, serta kelembapan udara yang tinggi yang dapat meningkatkan potensi terjadinya hujan saat siang hingga terkadang sore hari," ujar Ari.
Baca juga: NTB berpotensi hujan meski masuk awal kemarau
BMKG memprakirakan pola cuaca yang berubah cepat sebagai ciri khas masa pancaroba kemungkinan berlangsung hingga wilayah Nusa Tenggara Barat memasuki musim kemarau secara total.
Berdasarkan data klimatologi, sebanyak 74 persen wilayah Nusa Tenggara Barat mulai memasuki musim kemarau pada dasarian I April 2026 atau periode 1-10 April. Musim kemarau dimulai dari wilayah timur NTB, kemudian berlanjut hingga ke wilayah NTB bagian barat.
Baca juga: NTB masuki periode peralihan musim menuju kemarau
Ari mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan berupa hujan yang turun secara tiba-tiba, angin kencang, dan petir.
"Selalu bawa payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar ruangan, hindari berteduh di bawah pohon, baliho, maupun tiang listrik saat hujan disertai angin kencang, serta jaga selalu kebersihan lingkungan untuk mencegah risiko banjir," pungkasnya.