Lombok Tengah (ANTARA) - InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) melakukan penanaman 15.000 bibit mangrove di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan menjaga ekosistem kawasan.

"Kegiatan ini lanjutan dari kegiatan penanaman mangrove InJourney Green pada tahun sebelumnya, sebagai bentuk aksi nyata dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendorong pariwisata berkelanjutan," kata Direktur SDM dan Digital InJourney Herdy Harman di Lombok Tengah, Kamis.

Ia mengatakan bahwa InJourney Green merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan InJourney Group dalam mendorong praktik pariwisata yang bertanggung jawab di seluruh member, khususnya pada pilar lingkungan.

“InJourney Green kami dorong sebagai wadah kolaboratif yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memperkuat dampak sosial dan ekonomi secara berkelanjutan," katanya.

"Melalui pendekatan berbasis kajian dan kolaborasi lintas stakeholder, kami ingin memastikan setiap inisiatif yang dijalankan memberikan kontribusi nyata terhadap upaya mitigasi perubahan iklim dan pelestarian ekosistem,” ujarnya.

Direktur Komersial dan Marketing ITDC Febrina Mediana, menyampaikan bahwa penanaman mangrove ini adalah bagian dari upaya strategis perusahaan, dalam memastikan pengembangan KEK Mandalika berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan.

'InJourney Green 2026 bukan sekadar bagian dari flagship program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) InJourney Group, tetapi juga langkah konkret mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), serta Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia," katanya.

Baca juga: Hasil lelang amal MotoGP 2025 untuk tangani stunting

Ia mengatakan melalui inisiatif ini, pihaknya ingin memastikan bahwa pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi lingkungan dan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Pelaksanaan program InJourney Green didasarkan pada hasil kajian teknis dari tim Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB), yang mengidentifikasi kondisi eksisting mangrove di KEK Mandalika.

Ekosistem mangrove di lokasi ini, didominasi oleh fase pertumbuhan pancang dengan tinggi rata-rata 3 hingga 5 meter, serta karakteristik substrat berupa campuran lumpur dan pasir padat yang dipengaruhi oleh dinamika pasang surut.

"Berdasarkan kajian itu, program rehabilitasi dirancang secara terukur dengan mempertimbangkan kesesuaian jenis, lokasi, serta metode penanaman," katanya.

Baca juga: GT World Challenge Asia diharapkan mendongkrak pariwisata Mandalika

Kegiatan ini dilaksanakan di area 22 seluas ±1.500 m² sebagai lokasi utama, serta area 23 sebagai area lanjutan, dengan total cakupan rehabilitasi mencapai ±5,2 hektare.

"Secara keseluruhan, akan ditanam 15.000 jenis bibit mangrove, yang terdiri dari jenis Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, dan Rhizophora stylosa," katanya.