Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca labil masih akan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) pada periode 11 sampai 20 Mei 2026 seiring masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Made Budi Setiawan mengatakan selama sepuluh hari ke depan masih ada potensi hujan.
"Saat ini sebagian wilayah di NTB telah mulai memasuki periode musim kemarau. Namun, sebagian wilayah lain masih berada pada periode transisi dari musim hujan menuju musim kemarau," kata dia di Mataram, Senin.
Berdasarkan laporan iklim dasarian I Mei 2026, BMKG mencatat curah hujan secara umum masih berada pada kategori rendah hingga menengah dengan intensitas 0 sampai 150 milimeter per dasarian.
Baca juga: Hujan ringan berpeluang guyur sebagian wilayah NTB
Curah hujan tertinggi ada di Pos Hujan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, mencapai 115 milimeter per dasarian. Sifat hujan bervariasi mulai kategori bawah normal hingga atas normal.
Adapun hari tanpa hujan berturut-turut masih didominasi kategori sangat pendek hingga menengah berkisar antara 1 sampai 20 hari. Situasi itu memperlihatkan meski sedang berlangsung periode kemarau, namun sebagian wilayah masih hujan.
Pada dasarian II Mei 2026, BMKG memprediksi mayoritas wilayah NTB masih memiliki peluang hujan dengan intensitas di atas 50 milimeter per dasarian dengan probabilitas 40 persen hingga lebih dari 90 persen.
Baca juga: Waspadai, fenomena gangguan atmosfer picu cuaca ekstrem di NTB
Budi menuturkan peluang hujan di atas 100 milimeter per dasarian berpotensi terjadi di Kota Mataram, sebagian Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Sumbawa Barat, dan Sumbawa.
"Peluang terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian sebesar 70 persen hingga lebih dari 90 yang terjadi di sebagian Kota Mataram, sebagian Lombok Barat, dan sebagian Lombok Tengah," paparnya.
BMKG mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba selama masa peralihan musim.
Budi menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan hujan yang masih terjadi sebagai langkah mengantisipasi potensi kekeringan pada puncak musim kemarau mendatang serta menjaga kebersihan saluran air di lingkungan sekitar.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026