"Petani tidak cukup hanya diberi imbauan. Jika diminta beralih komoditas, harus ada jaminan sistem yang mendukung,"
Kota Mataram (ANTARA) - Senator Mirah Midadan Fahmid menyoroti pendekatan adaptasi sektor pertanian di daerah yang dinilai belum sepenuhnya berbasis data iklim dan kebutuhan riil petani, di tengah ancaman kemarau panjang 2026.
Menurut dia, perubahan pola tanam petani belum berjalan optimal karena minimnya kepastian dukungan dari hulu hingga hilir, meliputi ketersediaan benih, akses pembiayaan, hingga jaminan pasar.
"Petani tidak cukup hanya diberi imbauan. Jika diminta beralih komoditas, harus ada jaminan sistem yang mendukung," ujarnya kepada ANTARA, Rabu.
Anggota Komite II DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu, menilai sebagian petani masih memaksakan menanam padi di tengah keterbatasan air, yang berisiko tinggi terhadap penurunan produksi hingga gagal panen.
Dalam konteks tersebut, Mirah menekankan pentingnya peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dalam menyediakan data cuaca yang akurat dan terkini. Namun, ia mengingatkan bahwa informasi iklim tersebut perlu diterjemahkan menjadi panduan operasional yang mudah dipahami dan aplikatif bagi petani.
"Data iklim harus diubah menjadi keputusan praktis, seperti waktu tanam, pilihan komoditas, serta kebutuhan air di lapangan," katanya.
Senator berdarah Bima itu juga mendorong percepatan penerapan sistem pertanian adaptif, termasuk konsep climate smart agriculture (CSA), serta penguatan diversifikasi tanaman ke komoditas yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Meski demikian, Ia menegaskan bahwa transformasi tersebut tidak akan berjalan efektif tanpa dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga lembaga riset.
"Jika tidak disiapkan secara sistematis, persoalan yang sama akan terus berulang setiap musim kemarau," ujarnya.
Ia menambahkan, kebijakan pertanian ke depan harus lebih antisipatif, berbasis data, dan berpihak pada petani guna menjaga ketahanan pangan daerah di tengah dinamika perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Pewarta : Ady Ardiansah
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026