Kepala BPS NTB Soegarenda, di Mataram, Senin, mengatakan penurunan ini disebabkan turunnya harga-harga yang diproduksi petani terutama produksi tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan.
"Penyebab turunnya NTP pada Juli 2010 karena indeks harga yang diterima petani sebesar 1,37 persen, lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 2,03 persen," katanya.
Ia menjelaskan NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase) merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.
NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
Berdasarkan hasil survei di tujuh kabupaten di NTB, tambah Soegarenda, NTP mengalami fluktuasi setiap bulannya selama periode Januari 2008 - Juli 2010.
"NTP Nusa Tenggara Barat pada Juli tahun ini masih berada di bawah 100 persen yang berarti petani mengalami defisit atau penurunan daya belinya karena kenaikan harga produksi yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah tangga petani," katanya.
Beberapa subsektor pertanian yang mengalami penurunan nilai tukar pada Juli, kata dia, yakni subsektor padi dan palawija turun 1,10 persen. Penurunan terjadi karena kenaikan harga gabah kering giling dan palawija tidak sebanding dengan kenaikan biaya tenaga kerja.
Untuk subsektor perkebunan rakyat turun 2,34 persen yang disebabkan turunnya harga kopi dan kelapa belum dikupas, sedangkan indeks yang dibayar petani lebih tinggi sebagai pengaruh dari peningkatan indeks konsumsi rumah tangga dan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) masing-masing sebesar 2,87 persen dan 0,07 persen.
Selanjutnya, kata dia, subsektor peternakan turun 1,40 persen yang disebabkan karena kenaikan harga sapi potong, ayam dan telur tidak sebanding dengan kenaikan harga dedak dan sapi (umur kurang dari dua bulan).
Subsektor perikanan turun sebesar 1,05 persen. Penurunan NTP disebabkan karena peningkatan yang terjadi pada beberapa jenis ikan laut seperti tengiri, tembang, kerapu dan selar tidak sebanding dengan kenaikan harga minyak pelumas (oli) yang merupakan bahan penolong dalam mencari ikan di laut.
"Hanya subsektor hortikultura yang mengalami kenaikan NTP sebesar 3,49 persen. Peningkatan terjadi karena naiknya harga cabai, bawang merah, bawang putih, kol, kangkung dan beberapa jenis buah-buahan," katanya.
Soegarenda mengatakan dari 32 provinsi yang dilaporkan, perubahan NTP ada Juli 2010 terhadap NTP Juni 2010 ternyata sangat beragam, yaitu terjadi kenaikan NTP di 15 provinsi, sedangkan 17 provinsi lainnya mengalami penurunan.
"Kenaikan NTP tertinggi pada Juli 2010 terjadi di Provinsi Banten, sebesar 1,99 persen, sedangkan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Utara, sebesar 0,98 persen," katanya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026