"Dari 1 Januari 2021 sampai Rabu (6/1), kasus DBD di Mataram baru terjadi 2 kasus. Tapi potensi kenaikan bisa terjadi, apalagi dengan kondisi cuaca yang tidak menentu seperti saat ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Minggu.
Pada tahun 2020, kasus DBD di Kota Mataram tercatat sebanyak 644 kasus, dua diantaranya meninggal. Kasus DBD tahun 2020, meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya termasuk jumlah yang meninggal pada tahun 2019 hanya 1 orang.
Terkait dengan itu, Usman berhadap kasus DBD tahun 2021 bisa lebih rendah dari tahun 2020, dengan aktif melaksanakan gerakan 3M plus (menguras bak air, menutup dan mengubur barang bekas), plus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
"Selain kita disiplin terapkan gerakan 3M COVID-19 (masker, mencuci tangan dan menjaga jarak), kita juga jangan lupa dengan gerakan 3M untuk penanganan DBD," katanya mengingatkan.
Oleh karena itu, berbagai kegiatan penanganan DBD terus digencarkan dan dioptimalkan pada kelurahan yang memiliki kasus DBD dengan melibatkan aparat di kelurahan dan lingkungan.
"Peran serta kepala lingkungan untuk menggerakkan warganya melakukan upaya pembersihan dan penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) sangat penting," katanya.
Selain itu, pihaknya setiap hari melakukan kegiatan pengasapan atau "fogging" fokus pada kelurahan yang warganya positif terjangkit DBD.
"Setiap hari kalau tidak hujan, pengasapan kami lakukan pagi dan sore," katanya.
Selain itu, dilaksanakan juga pemberian bubuk abate kepada semua masyarakat untuk ditaruh pada wadah penampungan air guna mencegah adanya jentik nyamuk. Dinkes juga tetap aktif melakukan berbagai upaya antisipasi melalui sosialisasi dan penyuluhan PHBS dengan menggunakan mobil keliling.
"Dari upaya itu, PSN menjadi gerakan paling efektif karena mampu memusnahkan jentik nyamuk. Kalau pengasapan hanya mampu membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya akan tetap berkembang biak," ujarnya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026