Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan dan Pertanian Sumbawa Barat, Muslimin, di Taliwang, Selasa, mengatakan bahwa Sumbawa Barat memiliki sentra produksi kopi luwak.
"Pengembangannya kini dipusatkan di Dusun Rarak Runges, Kecamatan Brang Rea. Disana luwak liar memakan biji kopi di kebun penduduk. Biji kopi yang dimakan dan kemudian dikeluarkan bersama kotoran hewan mamalia ini, dapat dijumpai di kebun warga," katanya.
Luwak atau musang (Paradoxurus Hermaphrodirus) merupakan pemakan daging. Selain itu binatang ini juga menyukai buah- buahan seperti pisang, pepaya, jambu dan buah kopi.
Menurut dia, produksi kopi luwak ini rata-rata 100- 500 kilogram pertahun. Meski jumlah itu terhitung kecil, namun pemerintah kini mulai mengembangkan produksi biji kopi ini di wilayah perkebunan lain, seperti di wilayah Dusun Mataiyang, Kecamatan Brang Ene.
Saat ini, pihaknya telah mengusulkan unit usaha industri perkebunan berupa bantuan mesin produksi kopi dari Kementerian Kehutanan melalui Dirjen Pengembangan Produksi.
Di Rarak Runges luas lahan yang cocok untuk perkebunan kopi jenis ini ada 500 hektar lebih, di Mataiyang luasnya mencapai 150 hektar.
Data Dinas Kehutanan Sumbawa Barat menyebutkan, luas lahan kopi tertanam di Sumbawa Barat ada lebih 230 hektar. Dengan asumsi produksi rata-rata perhektar mencapai 600 kilogram.
"Memang saat ini baru jenis biji kopi robusta yang kami kembangkan. Tapi, bayangkan jika kita memfokuskan dua daerah itu sebagai sentra pengambangn kopi luwak, Sumbawa Barat tentu tercatat sebagai daerah pengahasil kopi luwak pertama dan terbesar di NTB" ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026