Idul Fitri Setelah Pandemi

id Idul Fitri

Idul Fitri Setelah Pandemi

Mujaddid Muhas, M.A., Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda KLU (Istimewa)

Mataram (ANTARA) - Gema dan lantunan merdu tasbih, tahmid, tahlil, serta takbir menggaung persis sejak pengumuman resmi dari pemerintah. 

Berdasarkan perhitungan hisab dan pengamatan rukyat untuk menentukan penghabisan puasa: 1 Syawal. Semarak Idul Fitri dimulai. Berbondong-bondong warga turut "tumpah ruah" bergembira dalam suasana Idul Fitri. Kembali ke fitrah. 

Hari kemenangan terhadap hawa nafsu dan kebatilan. Hari raya yang dispesifikkan, untuk menggemai kelegaan.

Cengli, nyaris dua tahun saat pandemi melanda bumi, pelaksanaan rangkaian puasa dan lebaran dibatasi melalui protokol kesehatan (Prokes). Sesuai prosedur tetap penanganan dari pemerintah. 

Prokes yang dapat mencegah meluasnya pandemi. Cara tersebut efektif meminimalkan korban dari ganasnya wabah penyakit yang melanda seantero jagat. 

Wabah horor yang mengerubungi, dari lintasan berita dikabarkan korban kematian mengenaskan, maupun pada sekitar lingkungan masing-masing. Pandemi, cengli mengubah semuanya. Praktis, demi kesehatan, berbagai ragam tradisi berlebaran, tak bisa dilaksanakan sebagaimana lazimnya.

Namun lebaran Idul Fitri kali ini, agaknya berbeda. Setidaknya dua tahun terakhir. Semenjak mewabahnya pandemi dengan segala variannya. 

Berbagai cara pula mengatasi dan mengantisipasinya. Banyak siklus yang mengalami perubahan, terutama pada pola hidup sehat dan pola interaksi sosial yang berbeda dari lebaran-lebaran sebelumnya. 

Kini pandemi telah berangsur lenyap, berganti pada skala lokal: memasuki fase endemi. Layak kita syukuri, sebagai karunia ilahi. Lebaran Idul Fitri, bisa normal kembali.

Ragam tradisi lebaran yang kerapkali dilakukan, sebagaimana telah secara turun temurun. Diantaranya, mudik ke kampung halaman, sungkeman kepada kedua orang tua dan menengok sanak keluarga; berziarah ke makam dengan do'a khidmat membawa bebunga dan air siraman; bersilaturahmi dan salam-salaman kepada tetangga, keluarga dan handai taulan; membuat kuliner spesial yang biasanya dengan menu-menu porsi besar; kegiatan Halalbihalal dengan bersua obrolan kepada teman kolega dan handai taulan serta "Lebaran Ketupat" sebagai pelengkap ritual berpuasa sunnah enam hari di Bulan Syawal. Kesemuanya, diliputi dengan ketulusan, kegembiraan, dan kelegaan.

Ada yang bertanya iseng begini: "Mengapa saat lebaran yang mestinya bergembira ria, ada yang tampak bersedih hingga terisak?" Kemungkinan ada dua respons yang bisa saya nukilkan pada artikel kali ini. 

Pertama, keharuan air mata. Ketersedihan yang tampak pada raut wajah seseorang saat hari lebaran, terpancar lantaran meraup kegembiraan yang tak terkirakan. 

Dalam gambaran diksi lainnya tampak terharu: kegembiraan yang terenyuh. Perasaan lega yang meluap hingga bisa meneteskan air mata secara natural. Saat tertawa (terpingkal-pingkal) saja, terkadang kita bisa meneteskan air mata bahagia. Saking gembiranya. Begitu pula saat berlebaran. Hari raya yang telah dinanti-nantikan tiba, sebelumnya sebulan berpuasa.

Kedua, tangisan mata air. Sebagian kaum serbapapa yang secara aktual cengli bersedih. Adanya perasaan mendalam yang tidak bisa atau tepatnya belum bisa merasakan kebahagiaan berlebaran. Dari kaum serbapapa inilah, poin intinya. 

Tangisan yang diekspresikan oleh perasaan yang belum bisa merasakan kebahagiaan berlebaran, sebagaimana layaknya kebanyakan orang. Kerap kita jumpai ada di Panti Asuhan, sarana umum seperti terminal, kolong jembatan, pemukiman superpadat, bantaran pinggiran kota, maupun yang termarginalkan jauh di pelosok desa yang tak sempat terpikirkan oleh kaum berada yang telah sarat dengan kebahagiaan.

Apalagi dua tahun terakhir pandemi, perekonomian sedang mengalami pasang surut. Tentu banyak yang terdampak. Berapa banyak yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja, berapa banyak yang macet usahanya, berapa banyak anak-anak yang jeda tak bisa bersekolah, hanya karena kekurangan biaya. Berapa banyak pula yang mesti berhemat hebat: mengonsumsi asupan kuliner di bawah standar makanan pokok keseharian. Itu semua dijalani dan dihadapi saban hari dalam kondisi pandemi.

Kaum serba papa tersebut, mungkin bukan ingin secara terus menerus diatensi, tetapi cukup baginya untuk dihargai dan diempati. Bahwa ada "hak" yang sama untuk berlebaran. Turut berbahagia saat lebaran. Dalam suatu nukilan hadits, kurang lebihnya bermakna bahwa orang yang terzalimi oleh keadaan terkabul munajat do'a-do'anya. Dalil itu, bukan semacam "ancaman" kepada kaum berada, tetapi Tuhan telah begitu apiknya menghadirkan equilibrium sosial kepada manusia untuk memproduksi keluhuran serta menyatakan perasaan setara sebagai hamba atas keadaan-keadaan yang melanda.

Alangkah eloknya, ketika kian tuman empati sosial kemanusiaan dari kaum berada yang telah bisa terharu air mata, kepada kaum serbapapa yang pada dirinya terdapat tangisan mata air. Dari jalinan sosial itu, tangisan mata air pun berubah menjadi air mata haru. Mata air yang memancarkan kebahagiaan dan menambah kegembiraan bagi harunya air mata yang telah bergembira. Begitulah ekosistem filantropik terjalin, sebagai bagian dari halawatul iman. Indah manisnya keimanan.

Semoga semangat beribadah di bulan puasa, dapat ditransformasi ke dalam kehidupan sosial, terhadap 11 bulan selanjutnya. Dalam perihal muamalah, senantiasa merejuvenasi pengamalan harmoni. Sebagai bentuk konkret dari kawah candradimuka pengamalan keindonesiaan kita. Suatu transendensi universal dan penerapan nilai-nilai toleran yang nyata pada kegiatan ibadah agama. Tersimak dari liputan, perayaan lebaran Idul Fitri di Bali. Pelaksanaan sholat ied dijaga oleh penerap kebaikan Pecalang. Pada keluhuran lainnya, suatu kampung di Jawa, suasana pulang sholat ied, baik yang berlebaran maupun yang berbeda agama berjejer salam-salaman rukun antaragama: saling bermaafan. Tradisi tersebut, telah lama diterapkan. Begitu pula sebaliknya, saat hari raya agama lainnya, dengan formulasi berbeda.

Kendati pada peristiwa lain, masih kita temukan kemirisan. Sikap rasis, ujaran kebencian, dan tebaran informasi hoaks yang sesungguhnya tak perlu adanya. Cara-cara demikian, secara futuristik tak ada gunanya. Merugikan. Nyaris tak ada kebanggaan, tak ada kelegaan. Syawal sebagai momentum perubahan ke arah yang lebih mencerahkan. Mesti berubah dari yang semula habit dengan hoaks menuju hidup dengan realita aktual. Kesungguhan perubahan mindset dari ujaran kebencian menjadi semacam "ujaran kerinduan" yang termanifestasi pada kehidupan sosial. Kemauan dari lubuk hati untuk menghindari tindakan rasisme. Keonaran kerapkali timbul dari percakapan atau pernyataan rasis yang tak terasa hinggap pada alam bawah sadar. Tuman-tumanlah kita dalam harmoni berkehidupan, lantaran itulah susunan "batu bata" peradaban universal.

Bahwa masih ada renik-renik hoaks, ujaran kebencian dan rasis yang menggejala pada silang sengkarut informasi yang berulang-ulang dan menghinggapi indra paranetizen merupakan hamparan yang tak terelakkan di era arus deras informasi. Tak perlu pula gusar berlebihan, masih ada harapan dan optimisme untuk terus meningkatkan pencerahan literasi, dimulai dari diri kita. Semisal melakukan tabayyun melalui sumber informasi valid: akurasi hoaks tidaknya. Melakukan penetrasi ujaran kebencian menjadi semacam "ujaran kerinduan" serta penyadaran terhadap rasisme yang sering menjadi pemicu keonaran sosial, bahkan mewujud menjadi keonaran politis. Rasisme, tak akan menyelesaikan masalah, justru menjadi pemantik keonaran. Hal tersebut, semestinyalah tak perlu adanya!

Setelah berjibaku pada berbagai rangkaian selama ramadhan. Kini syawal, saatnya saling memaafkan. Meningkatnya keimanan yang berkaitan dengan ketuhanan, kemanusiaan dan semesta alam. Menyusun puzzle peradaban universal yang indah nian nan harmoni. Dari lubuk hati: tahniah Idul Fitri.

-------
* Penulis adalah Sekretaris Majelis Daerah KAHMI KLU
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2022