Mataram, 28/9 (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Nusa Tenggara Barat mencatat nilai transaksi pasar lelang komoditi agro yang digelar, Rabu, mencapai Rp3,32 miliar.

  "Nilai tersebut diperoleh dari hasil penjualan bawang merah, bawang putih, cengkeh, gula aren, jagung, kacang merah, kopi luwak dan vanili serta beberapa jenis komoditi lainnya," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Imam Maliki, di Mataram, Rabu.

  Ia mengatakan, nilai transaksi pasar lelang ke enam pada 2011 tersebut lebih rendah dibandingkan nilai transaksi pada pasar lelang komoditi agro yang digelar 27 Juli 2011 sebesar Rp4,53 miliar.

  Menurut Imam, nilai transaksi pada setiap kegiatan pasar lelang komoditi agro selalu fluktuatif.

  Pencapaian nilai transaksi tertinggi terjadi pada pasar lelang pertama yang digelar 26 Maret 2011 yakni mencapai Rp9,12 miliar. Angka itu kemudian mengalami penurunan pada saat pasar lelang kedua yang digelar 16 April 2011 dengan total nilai transaksi sebesar Rp569 juta.

  "Nilai transaksi kembali mengalami kenaikan pada pasar lelang ketiga yang digelar 21 Mei 2011 dengan nilai sebesar Rp4,46 miliar. Nilai transaksi turun lagi pada saat pasar lelang keempat yang digelar pada 25 Juni 2011 dengan nilai mencapai Rp2,76 miliar. Pasar lelang kali ini naik lagi jumlah transaksinya," ujarnya.

  Imam mengatakan, kegiatan pasar lelang komoditi agro diikuti oleh sekitar 50 petani dan pengusaha dari NTB dan luar daerah seperti Bali dan Pulau Jawa yang diundang secara rutin setiap kegiatan pasar lelang.

  Kegiatan pasar lelang komoditi agro, kata dia, merupakan salah satu terobosan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan dengan tujuan untuk mewujudkan sistem perdagangan yang lebih baik melalui transparansi dan mekanisme penentuan harga.

  Tujuan lainnya adalah untuk memotong mata rantai pemasaran agar lebih efisien, sehingga akan diperoleh manfaat yang lebih besar antara lain meningkatnya efisiensi pemasaran, posisi tawar petani menjadi lebih baik dan mendorong peningkatan mutu produksi serta adanya kepastian pasar.

  "Melalui kegiatan pasar lelang komoditi agro itu, para petani bisa lebih mudah berinteraksi dengan pengusaha di bidang agribisnis dalam memasarkan hasil pertaniannya. Petani juga bisa membentuk jaringan pemasaran yang lebih efisien," ujarnya.

  Ia menyebutkan, sebanyak 19 dari 33 provinsi di Indonesia, diberikan izin oleh Bappebti sebagai penyelenggara pasar lelang pada 2011, yaitu lima provinsi di Pulau Jawa, empat provinsi di Pulau Sumatera, dua provinsi di Pulau Kalimantan, empat provinsi di Pulau Sulawesi, Bali dan NTB.

  Maliki mengatakan, jumlah provinsi yang akan menggelar pasar lelang komoditi agro pada 2012 hanya 16 provinsi, termasuk NTB.

  NTB sendiri sudah menyelenggarakan kegiatan pasar lelang komoditi agro sejak 2005 dengan jadwal kegiatan sebanyak tujuh kali dalam setahun.

  "Ke depan peran pemerintah terhadap penyelenggara pasar lelang akan semakin dikurangi dengan memberikan kesempatan kepada pihak swasta. Pemerintah nantinya hanya berperan sebagai pembina dan pengawas," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026