Mataram, 11/10 (ANTARA) - Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Irwandy Arif mengatakan, pemerintah perlu menentukan keseimbangan pemanfaatan batu bara antara produksi, ekspor dan keperluan domestik khususnya untuk kebutuhan "power plant".
  "Hingga kini pemakaian batu bara kita hanya 30 persen untuk kebutuhan domestik. Sekitar 90 dari kebutuhan domestik itu untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), 70 persen produksi batu bara Indonesia diekspor ke berbagai negara," katanya di Mataram, Selasa.
  Pada acara Temu Profesi Tahunan (TPT) XX Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) yang berlangsung di kawasan wisata Senggigi 10-11 Oktober 2011, dia mengatakan, pemanfaatan batu bara untuk kebutuhan domestik itu diharapkan terus berkembang.
  "Tentunya kita mengharapkan program pengembangan energi listrik tahap pertama dan kedua, 20.000 mega watt (MW) bisa berjalan lancar dengan catatan program pertama 10.000 hingga kini baru terealisasi 2.000 MW," ujar didampingi Ketua Panitia Pelakana TPT XX Perhapi Rajul Isman dari PT Newmont Nusa Tenggara.
  Ia mengatakan, menurut survey "Fresher Institute" (suatu lembaga internasional yang menilai mengenai potensi mineral dan batu bara di semua negara), pada 2006-2007 potensi batu bara Indonesia masih berada pada posisi seperempat dari negara-negara yang dianggap potensinya besar.
  Namun, katanya, pada 2009-2010 peringkat yang diberikan oleh lembaga internasional itu berada di bawah setengah.
  "Sebagai contoh cadangan batu bara kita dibandingkan dengan cadangan dunia hanya 0,5 persen. Di Indonesia menurut data terakhir Badan Geologi sebanyak 5,5 miliar ton, sedangkan cadangan dunia mencapai 820 miliar ton," ujar Irwandy yang juga guru besar Teknik Pertambangan Instutut Teknologi Bandung (ITB).
  Irwandy mengatakan, cadangan batu bara Indonesia itu bisa bertambah dengan catatan kalau kegiatan eksplorasi bertambah. Selama ini biaya eksplorasi yang dipakai oleh semua industri di Indonesia hanya dua persen dari biaya eksplorasi dunia.
  "Karena itu kendati dikatakan kaya raya dengan potensi batu bara, namun kita harus tetap waspada, karena hasil survei tersebut menunjukkan adanya penurunan potensi. Dalam hal ini perlu ada sesuatu yang harus diselidiki lebih detail," katanya.
  Jadi cadangan yang besarpun kalau tingkat produksi naik terus tentunya potensi akan berkurang, kecuali ada penambahan melalui kegiatan eksplorasi.
  "Karena itu pesan kami dari Perhapi, jangan sampai terbuai kita dikatakan negara kaya mineral dan batu bara. Kita harus tetap waspada dan mempunyai strategi yang bagus untuk penggunaan cadangan batu bara kita," ujarnya. (*)
    





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026