"Provinsi NTB dipilih sebagai lokasi 'Economic Diplomatic Field Trip' 2011 dengan harapan dapat menarik minat investor dan mitra dagang dari negara-negara Amerika dan Eropa," kata Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Eddy Hariyadi, di Senggigi, Kabupaten Lombok barat, Rabu.
Eddy Hariyadi mengemukakan hal itu dalam diskusi yang diikuti peserta perjalanan diplomatik bidang ekonomi negara-negara Amerika dan Eropa ke Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Diskusi itu mengawali perjalanan diplomatik bidang ekonomi 13 pejabat perwakilan negara-negara Amerika dan Eropa, ke Pulau Lombok, termasuk dua duta besar yakni Duta Besar Polandia dan Ekuador.
Ke-13 pejabat perwakilan negara-negara Amerika dan Eropa itu adalah Duta Besar Polandia Wisniewski Grzegorz yang didampingi Kepala Bidang Perdagangan dan Investasi Morawski Roman, Duta Besar Ekuador Eduardo Calderon, dua pejabat konsuler Amerika Serikat masing-masing Tania Romanoff dan Nathan Dettman.
Cekoslovakia diwakili oleh Petr Dolezai selaku Deputy Chief Mission (DCM) atau Kuasa Usaha di Kedutaan Besar RI, Italia diwakili oleh Laura Lamia selaku Sekretaris I Kedubes Italia di Indonesia, dan Meksiko diwakili oleh Jessy Denisse Valle selaku Atase Sipil Kedubes Italia di Indonesia.
Portugal mengutus Pedro Filipe Pareira Felix Coelho selaku Kuasa Usaha di Kedutaan Besar RI, Ukrania diwakili oleh Dmytro Govorun selaku Sekretaris III Kedubes Ukrania di Indonesia, dan Venezuela mengutus Elena Csiky selaku Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI), serta Uni Eropa yang diwakili Jan Willem Blankert selaku Adviser Khusus ASEAN.
Diskusi yang dihadiri sekitar 150 orang itu juga melibatkan pejabat Kemlu, pejabat Pemerintah Provinsi NTB dan perwakilan pengusaha.
Perjalanan diplomatik bidang ekonomi atau 'Economic Diplomatic Field Trip' Amerika dan Eropa yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri itu, akan berlangsung hingga Jumat (28/10).
Setelah berdiskusi, peserta "Economic Diplomatic Field Trip" Amerika dan Eropa itu melakukan peninjauan ke sentra-sentra ekonomi, kebudayaan dan pariwisata di Pulau Lombok, seperti industri rumput laut PT Phoenix Mas Mandiri, sentra gerabah di Banyumulek, Lombok Barat, dan sentra mutiara di Sekarbela, Kota Mataram.
Dijadwalkan, kegiatan dihari ketiga perjalanan diplomatik bidang ekonomi Amerika dan Eropa itu, masih berupa peninjauan ke lokasi wisata di kawasan Mandalika, di Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, kemudian mengunjungi lokasi budidaya rumput laut dan mutiara di Gerupuk.
Kunjungan lainnya ke desa wisata Sade di Lombok Tengah, kemudian menuju sentra kerajinan tenun di Sukarare, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.
Eddy mengatakan, NTB dipilih sebagai lokasi 'Economic Diplomatic Field Trip' 2011 karena merupakan satu dari tujuh provinsi yang mendapat penghargaan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai "regional champions for investment" sehingga dipastikan memiliki potensi ekonomi yang layak dikembangkan.
Selain itu, sejak beberapa tahun terakhir ini NTB dianggap sukses menjadi tuan rumah kegiatan berskala internasional seperti "ASEAN Foreign Ministerial Meeting, dan pertemuan bilateral antara Indonesia dengan negara-negara sahabat.
"Ini membuktikan bahwa NTB merupakan wilayah yang aman dan kondusif, sehingga melaui kegiatan ini diharapkan terjalin komunikasi antara pemerintah daerah maupun pengusaha di NTB dengan perwakilan asing di Indonesia, yang pada akhirnya akan membuka kerja sama ekonomi yang lebih konkrit," ujarnya.
Perjalanan diplomatik bidang ekonomi Amerika dan Eropa itu, kata Eddy, diharapkan dapat meningkatan promosi peluang investasi dan akses produk NTB di negara-negara Amerika dan Eropa.
Kemlu pun berkomitmen untuk secara konsisten berkontribusi pada peningkatan pembangunan ekonomi daerah melalui kerja sama internasional yang lebih konkrit dan luas.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTB H Badrul Munir yang juga hadir dan membuka diskusi itu, mengatakan, NTB lebih fokus pada pengembangan pariwisata dan pangan nasional guna mendukung Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
"Untuk menunjang hal itu, NTB mengharapkan adanya investasi terutama dalam pembangunan infrastruktur seperti hotel, pelabuahan, pembangkit listrik, bendungan dan jalan," ujarnya.
Badrul juga mengemukakan bahwa NTB tengah berupaya melakukan diversifikasi komoditi untuk mengurangi ketergantungan pada sektor pertambangan, diantaranya mempromosikan produk-produk unggulan seperti sapi, jagung, rumput laut, dan beragam kerajinan rakyat seperti gerabah dan kayu olahan.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026