Mataram, 10/12 (ANTARA) - Provinsi Nusa Tenggara Barat masuk kategori kuadran III status gizi nasional atau berada pada peringkat 21 dari 33 provinsi di Indonesia, berdasarkan hasil rizet Kementerian Kesehatan di 2010.
"Itu hasil rizet terakhir dan rizet berikutnya baru akan dilaksanakan pada 2013 sehingga ada kemungkinan peringkat NTB mengalami peningkatan atau masuk kategori kuadran II," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H Moch Ismail, di Mataram, Sabtu.
Ia mengatakan, status gizi didefinisikan sebagai keadaan keseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh untuk berbagai keperluan proses biologi.
Bila jumlah asupan zat gizinya sesuai dengan kebutuhan disebut seimbang (gizi baik), jumlah asupan zat gizi lebih rendah dari kebutuhan di sebut gizi kurang, bila asupan zat gizi sangat kurang dari kebutuhan di sebut gizi buruk, dan bila jumlah asupan zat gizi lebih tinggi dari kebutuhan disebut gizi lebih atau gizi tidak seimbang dari garis normal.
Untuk perkembangan pertumbuhan, kecerdasan, dan pemeliharaan kesehatan, serta aktivitas dan lainnya diperlukan gizi seimbang.
Kecepatan pertumbuhan/pencapaian pertumbuhan diidasarkan pada ukuran fisik tubuh yang dikenal dengan antropometri, yang digunakan sebagai indikator status gizi.
Indeks antropometri yang merupakan bentuk penyajian parameter antropometri yakni berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) yang dikaitkan dengan variabel umur (U) atau merupakan kombinasi antara keduanya yakni BB/U, TB/U dan BB/TB.
Dengan demikian, indeks antropometri itu digunakan sebagai indikator status gizi karena nilai-nilainya digunakan dalam penentuan status gizi seseorang/anak.
"Untuk menjelaskan kekurangan gizi perlu beberapa indikator secara bersama-sama, dan masing-masing ukuran memberi arti tersendiri. TB memberi gambaran tentang pertumbuhan, danTB bertambah secara universal. Sesuai kaidah pertumbuhan ditentukan oleh kecukupan dan kelengkapan makanan dan status kesehatan," ujarnya.
Ismail mengatakan, berdasarkan hasil rizet Kementerian Kesehatan sesuai indikator status gizi itu, untuk Provinsi NTB dihasilkan indeks BB/U pada angka 30,5 persen atau berada peringkat 31 dari 33 provinsi.
Peringkat NTB untuk indeks BB/TB lebih baik dari indeks BB/U, sementara indeks TB/U berada pada peringkat 14, sehingga jika ditotalkan nilai ketiga indeks itu maka NTB berada pada peringkat 21 atau kategori kuadran III, yang berarti masih ada 12 provinsi lainnya di Indonesia yang berada pada kuadran IV.
"Itu pun hasil pendataan bayi lahir yang terdata sejak 2006 hingga 2009, yang dirizet pada 2010 oleh Kementerian Kesehatan. Maka bisa disebut data lama yang baru dirilis saat pertemuan dialog Menkes dengan Gubernur NTB di pendopo, September 2011," ujarnya.
Hasil rizet 2010 itu, kembali dirilis oleh Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat Dr Untung Suseno Sutarjo MKes, pada acara sosialisasi program Bidang Kesehatan yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan, di kawasan wisata Senggigi Lombok Barat, NTB, 30 November 2011.
Ismail optimistis, peringkat NTB akan lebih baik saat rizet berikutnya oleh Kementerian Kesehatan pada 2013, karena berbagai upaya nyata terus dilakukan.
Upaya nyata itu, antara lain pengalokasian anggaran berkelanjutan untuk posyandu yang ada di semua wilayah NTB.
Pemerintah daerah juga memberikan makanan tambahan pada anak-anak usia sekolah dasar bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta lembaga swadaya masyarakat.
Pemberian makanan tambahan yang sehat dan bergizi dilakukan melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Anak Sekolah dan Taburia.
Taburia adalah bubuk multivitamin dan multimineral untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral setiap anak balita. Taburia mengandung 12 macam vitamin dan empat macam mineral yang bermanfaat untuk menambah nafsu makan anak dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang meliputi otak, mata, tulang dan gigi.
"Kami juga mendorong peningkatan konsumsi pangan lokal sebagai makanan tambahan bagi anak balita, seperti kacang-kacangan memiliki kandungan gizi yang memadai untuk kecerdasan anak," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026