Mataram, 14/12 (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi berharap Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat di Kabupaten Lombok Timur terus memantau dan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan aliran kepercayaan baru yang mencuat.
"Pak Gubernur sudah mendapat laporannya dan Bakor Pakem Lombok Timur yang ditugaskan memantau dan menyelesaikan permasalahan tersebut," kata Asisten Tata Pemerintahan dan Aparatur Setda Nusa Tenggara Barat (NTB) H Nasibun, di Mataram, Rabu, usai mendampingi Gubernur NTB menerima kunjungan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB Prof Syaiful Muslim, dan tokoh agama lainnya.
MUI dan tokoh agama Islam lainnya yang juga tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) NTB, menemui Gubernur NTB guna menyampaikan hasil evaluasi terhadap pengawasan komunitas Jamaah Ahmadiyah di wilayah NTB.
Selain menyampaikan hasil evaluasi itu, para tokoh agama dan Gubernur NTB juga mendiskusikan persoalan aliran kepercayaan baru yang mencuat di Kabupaten Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.
Nasibun mengatakan, Gubernur NTB juga telah mengingatkan Badan Koordinasi (Bakor) Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Provinsi NTB untuk terlibat aktif menyelesaikan masalah, jika Bakor Pakem Lombok Timur tidak mampu menuntaskan permasalahan tersebut.
"Bakor Pakem Provinsi NTB juga memantau, namun penyelesaiannya di tingkat kabupaten, kecuali jika tidak mampu. Tetapi, ditekankan bahwa aliran baru itu tidak boleh menyinggung perasaan penganut agama Islam atau agama lainnya, makanya Bakor Pakem Lombok Timur yang mengidentifikasi aktivitasnya dan menyelesaikannya," ujarnya.
Pada Minggu (4/12) sekitar pukul 09.30 Wita, terjadi insiden pengrusakan dan pembakaran rumah tempat aktivitas aliran kepercayaan baru, yang dilakukan seratusan warga Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.
Sebelumnya, pada Sabtu (3/12) sekitar pukul 19.00 Wita, warga Desa Seruni itu melihat aktivitas aliran kepercayaan baru yang mereka duga sebagai aliran sesat karena pimpinan aliran kepercayaan baru itu memberikan pengajian kepada jamaahnya, sambil berteriak dan mengkonsumsi minuman keras.
Seratusan warga kemudian mendatangi tempat pengajian tersebut dan meminta dihentikan dengan alasan masyarakat setempat yang umumnya beragama Islam itu merasa kenyamanan dan ketenangan hidupnya terganggu.
Sempat terjadi pertengkaran hingga nyaris terjadi bentrokan fisik, sehingga aparat kepolisian membawa pimpinan dan kelompok aliran kepercayaan baru itu ke kantor polisi.
Namun, pada Minggu (4/12) sekitar pukul 09.30 Wita, warga beramai-ramai mendatangi rumah yang selama ini diduga sebagai tempat pengajian aliran kepercayaan baru itu hingga terjadi pengrusakan dan pembakaran rumah.
Versi masyarakat setempat, aktivitas aliran kepercayaan baru yang mereka sebut sebagai aliran sesat itu, sudah berangsung sejak setahun terakhir ini.
Pimpinan aliran kepercayaan baru itu teridentifikasi bernama Khairuddin Ahmad, yang kini telah memiliki lebih dari 20 orang pengikut yang berasal dari Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok Timur. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026