Mataram, 27/3 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat akan mengkaji dampak perkembangan sektor pariwisata terhadap tingkat konsumsi beras untuk memperjelas masalah kelebihan produksi yang tidak diketahui pasti peredarannya.

  "Selama ini kita ribut tentang surplus beras mencapai 500 ribu ton lebih. Tetapi barangnya tidak ada. Padahal kita belum menghitung berapa konsumsi para wisatawan," kata Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) NTB Hj Husnanidiaty Nurdin, di Mataram, Selasa.

  Provinsi NTB, kata dia, merupakan salah satu daerah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan "meeting, incentive, convention, and exhibition" (MICE) oleh pemerintah pusat.

  Penunjukan NTB sebagai salah satu lokasi kegiatan MICE untuk  mendukung program Pemerintah Provinsi NTB "Visit Lombok-Sumbawa" (VLS) 2012 dengan target jumlah kunjungan wisatawan mencapai satu juta orang sejak 2009 hingga 2012.  

  Menurut Husnanidiaty, jumlah tamu dari luar daerah yang mengadakan kegiatan MICE bisa mencapai 600 orang dan menginap di hotel selama beberapa hari.

  Para tamu tersebut tentunya mengonsumsi beras minimal tiga kali sehari. Namun total jumlah beras yang dikonsumsi oleh para tamu yang menginap di hotel di seluruh NTB belum diketahui secara pasti.

  "Bayangkan, satu dinas menggelar pertemuan yang dihadiri minimal dua orang utusan kali 33 provinsi dikali tiga kali makan. Berapa beras yang dikonsumsi. Itu yang coba kami hitung, sehingga kita tidak teriak-teriak ke mana beras NTB yang katanya banyak itu," ujarnya.    

  Selama ini, kata dia, pihaknya hanya menghitung konsumsi beras warga NTB mencapai 538.675 ton setiap tahun, yang diasumsikan kebutuhan beras mencapai 118,1 kilogram per orang/kapita/tahun, dengan jumlah penduduk sebanyak 4,3 juta jiwa.

  Kebutuhan setiap bulan berkisar antara 42 ribu ton hingga 55 ribu ton lebih, tergantung momentumnya seperti bulan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan bulan puasa hingga hari raya  Idul Fitri.

  Husnanidiaty mengatakan, berdasarkan analisa tahunan, kebutuhan beras masyarakat Lombok pada bulan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW mencapai 49.566 ton, atau lebih tinggi dibandingkan  rata-rata konsumsi setiap bulan  42 ribu ton.

  "Lonjakan kebutuhan beras juga terjadi menjelang bulan puasa Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri, Idul Adha serta Natal dan tahun baru," ujarnya.

  Ia juga sudah memperoleh data jumlah beras NTB yang ke luar daerah melalui PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III Cabang Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Beras NTB yang terdata ke luar daerah pada 2011 mencapai 60 ribu ton.

  Sementara data dari PT Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Lembar belum bisa diketahui, namun pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan instansi itu untuk membantu pendataan kendaraan bermuatan beras yang akan menyeberang melalui Pelabuhan Lembar ke Pelabuhan Padangbai, Bali.

  "Perkiraan kami 1 April 2012 pendataan beras yang ke luar di Pelabuhan Lembar sudah bisa dilakukan," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026