Mataram, 10/5 (ANTARA) - Kepala Divisi Regional Badan Urusan Logistik Nusa Tenggara Barat Rusdiyanto mengatakan, perdagangan beras antarpulau masih lesu karena harga jual di berbagai daerah tidak terpaut jauh.
"Sementara ini, Bulog masih menjadi andalan petani dan pengusaha beras, karena perdagangan antarpulau masih lesu," kata Rusdiyanto, di Mataram, Kamis.
Ia mengatakan, pengusaha beras masih enggan mengantarpulaukan beras dari wilayah NTB ke Pulau Jawa, atau Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTB).
Produksi setara beras di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, sementara ini cukup baik sehingga masih mencukupi kebutuhan.
Produksi setara beras di Pulau Bali juga relatif baik, sehingga tidak banyak membutuhkan beras dari daerah lain.
"Makanya harga beras medium di Pulau Bali saat ini sebesar Rp7.100/kilogram. Kalau pengusaha beras antarpulaukan dari NTB ke Bali untungnya tipis karena HPP beras yang diberlakukan untuk Bulog saat ini mencapai Rp6.600/kilogram," ujarnya.
Rusdiyanto menyebut, secara nasional produksi setera beras sampai awal Mei 2012 mencapai 1,6 juta ton dari target 4,1 juta ton. Jumlah produksi itu lebih banyak dari periode sebelumnya di 2011 yang hanya mencapai 800 ribu ton.
Peningkatan produksi yang cukup signifikan itu karena produksi setara beras di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, serta Sulawesi Selatan mengalami peningkatan, dan berpotensi memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Hal itu berarti impor beras di 2012, diperkirakan tidak terjadi karena produksi dalam negeri cukup baik.
"Karena itu, lalu lintas beras dan gabah dari Jawa, Sulawesi, Bali dan NTB ke daerah lain masih tersendat-sendat," ujarnya.
Kendati demikian, kata Rusdiyanto, pihaknya tetap akan menyiapkan program "move" nasional agar dapat langsung merealisasikannya jika diperintahkan untuk melaksanakan perpindahan beras dari wilayah NTB.
Menurut dia, kebutuhan beras di wilayah NTB untuk program beras keluarga miskin (raskin) jatah 13 bulan (12 bulan normal ditambah satu bulan jatah khusus) dan cadangan raskin tiga bulan, diasumsikan mencapai 136 ribu ton.
Jika harus melaksanakan program "move" beras nasional, maka Bulog NTB harus menyediakan sedikitnya 150 ribu ton beras, sehingga target penyerapan beras petani sebanyak 180 ribu ton sepanjang 2012 diupayakan tercapai.
"Memang, ada baiknya program 'move' beras nasional dilakukan dengan cara mencicil atau mendistribusikan secara bertahap. Namun, jika sekarang dilakukan program itu dikhawatirkan mempengaruhi pengadaan beras selanjutnya," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026