Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB Hj Ulayati Ali, di Mataram, Rabu, mengatakan, total nilai transaksi tersebut diperoleh dari 21 komoditas yang berhasil dilelang.
"Dari 21 komoditas yang berhasil dilelang, yang paling tinggi nilai lelangnya adalah sapi potong seberat 240 ton dengan harga Rp6,24 miliar," katanya.
Ia mengatakan, kegiatan pasar lelang ketujuh pada 2012 merupakan kegiatan yang ke-45 sejak diresmikan oleh Menteri Perdagangan pada 24 September 2005.
Pasar lelang tersebut juga dirangkaikan dengan kegiatan kontak dagang dengan Disperindag Jawa Timur, yang membawa sekitar 20 pengusaha, termasuk anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur.
Ulayati yang didampingi Kepala Seksi Pemberdayaan Perlindungan Konsumen, Disperindag NTB Ketut Sugiartha, menjelaskan, tujuan diadakannya pasar lelang komoditas agro yang digelar setiap tiga bulan sekali tersebut sebagai upaya efisiensi perdagangan dengan memperpendek rantai pemasaran dan mendukung perekonomian daerah serta membentuk harga referensi.
Para petani yang ikut dalam kegiatan pasar lelang komoditas agro itu juga memperoleh manfaat berupa adanya kepastian pasar hanya dengan membawa sampel barang yang akan dijual. Transaksi jual beli dapat dilakukan meskipun barang belum diproduksi.
"Para petani juga bisa merencanakan pola tanam yang baik, sehingga harga yang akan diterima diharapkan mampu meningkatkan pendapatan mereka," ujarnya.
Kepala Seksi Pemberdayaan Perlindungan Konsumen, Disperindag NTB Ketut Sugiartha, mengatakan, dengan nilai transaksi sebesar Rp14,5 miliar, maka total nilai transaksi pasar lelang pada periode 2012 yang digelar sebanyak tujuh kali mencapai Rp36 miliar lebih.
Realisasi transaksi pasar lelang komoditas agro pada 2012 melampui target yang ditetapkan sebesar Rp35 miliar.
Namun realisasi transaksi pasar lelang komoditas agro pada 2012 mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp45 miliar lebih.
"Memang mengalami penurunan dibandingkan realisasi tahun lalu. Salah satu penyebabnya adalah pengusaha dari luar yang terlibat relatif terbatas. Paling hanya dari Bali dan Jawa Timur. Ada keinginan dari pengusaha dari Sumatera dan Kalimantan, tapi kendala jarak yang terlalu jauh," ujarnya.
(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026