"Kami libatkan PPL pertanian untuk sebarkan imbauan perubahan cuaca, agar para petani dan pihak terkait lainnya mudah menyerap informasi penting dan jelas kebenarannya," kata Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Bima Catur Winarti, yang dihubungi dari Mataram, Rabu.
Ia mengatakan, pihaknya mengeluarkan imbauan terkait perubahan cuaca yang berpotensi menimbulkan bencana agar dipahami semua pihak, terutama para petani yang beraktivitas di sawah dan ladangnya.
Sejak beberapa pekan terakhir ini terjadi peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang mencapai 50 mili meter (mm), yang berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor.
Selain itu, adanya gumpalan awan petir Cb (Comulunimbus) yang mengandung partikel listrik dan sering mencuat pada musim penghujan sehingga membahayakan petani dan warga lainnya yang beraktivitas di ladang dan sawah.
Apalagi, beberapa pekan lalu dua orang warga Bima yang sedang beraktivitas di area persawahan terkena petir hingga tewas.
"Imbauan untuk mewaspadai awan Cb itu masih terus berlanjut, dan diharapkan semua pihak dapat mengindahkannya, agar tidak terjadi lagi musibah disambar petir seperti terjadi beberapa waktu lalu," ujarnya.
Catur menambahkan, diperkirakan intensitas curah hujan tinggi yang mencapai 50 mm masih akan terjadi hingga akhir Januari 2013.
Menurut dia, saat mencuat banjir bandang akibat luapan Sungai Laju dan Sungai Silo, yang menyebabkan ratusan rumah di Kecamatan Simpasai dan Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, terendam air, pada Senin (24/12) pukul 13.00 Wita hingga 15.00 Wita itu, juga disertai petir.
Karena itu, semua pihak termasuk petani harus mewaspadai kemungkinan curah hujan dengan intensitas tinggi disertai petir terjadi lagi. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026