"Kami siap, kalau tahun lalu sampai 900 ton, maka tahun ini meningkat menjadi 1.000 ton yang disiapkan untuk operasi pasar," kata Kepala Divisi Regional (Kadivre) Bulog NTB Muhammad Hasyim, di Mataram, Rabu.
Ia mengatakan, operasi pasar untuk komoditi beras dilakukan untuk menahan laju kenaikan harga beras pada waktu tertentu seperti, menjelang bulan puasa Ramadhan dan lebaran Idul Fitri.
Hanya saja, sebelum operasi pasar digelar, Bulog NTB harus mengantongi surat perintah dari Menteri Perdagangan tentang Operasi Pasar Beras dan surat tindaklanjut dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB.
Operasi pasar beras itu juga digelar setelah mendapat restu dari Bulog pusat terkait Operasi Pasar Beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Selanjutnya, dilakukan pengkajian besaran harga beras kualitas medium yang akan diberlakukan pada saat operasi pasar, yang dikaitkan dengan harga yang berlaku di pasar.
Beras medium yang dijual Bulog pada operasi pasar itu, juga bersumber dari program pengadaan beras petani.
Tahun 2013, Bulog NTB menargetkan pengadaan beras petani sebanyak 200 ribu ton, dan diyakini bisa terealisasi sedikitnya 170 ribu ton setara beras.
Sebagai pembanding, pada 2012 pengadaan beras petani NTB mencapai 155.695 ton dari target 196.000 ton atau pencapaian sebesar 79,44 persen.
Dari 1 Januari sampai 18 Februari 2013, kontrak pengadaan sebesar 1.500.000 kilogram, dan telah terealisasi sebanyak 827.925 kilogram setara beras, atau 55,2 persen dari kontrak.
Sedangkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering (GK) di tingkat petani sebesar Rp3.300/kilogram, di tingkat penggilingan sebesar Rp3.350/kilogram, HPP Gabah Kering Giling (GKG) tingkat penggilingan sebesar Rp4.150/kilogram, HPP GKG di gudang Bulog sebesar Rp4.200/kilogram dan HPP Beras sebesar Rp6.600/kilogram.
"Nanti, dibahas lagi secara detail menjelang pelaksanaan operasi pasar. Kami juga bersedia menggelar operasi pasar di sekitar rumah ibadah, bukan hanya di permukiman penduduk, agar lebih mudah dijangkau masyarakat," ujar Hasyim. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026