Kepala Dinas Peternakan NTB, Drh. Abdul Samad di Mataram, Selasa mengatakan, 11 provinsi yang selama ini mendapat pasokan sapi dari daerah ini adalah Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Nanggroe Aceh Darusslam, Riau, Jambi, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan Papua serta Nusa Tenggara Timur.
Ia mengatakan, dalam pertemuan di Jakarta beberapa hari lalu pihaknya berupaya mengajak 11 provinsi lainya yang selama ini membeli sapi di NTB agar menginvestasikan modalnya dalam pengembangan ternak tersebut.
"Kita harus yakin kedepan investasi dalam pengembangan sapi ini kedepan mampu bersaing dan saya optimis, karena secara historis masyakat NTB tidak bisa dilepaskan dan beternak sapi, selain itu ketersediaan lahan penggembalaan cukup luas, baru 30 persen yang dimanfaatkan," ujarnya.
Sementara dari aspek teknis NTB juga memiliki keunggulan-keunggulan, bahkan sekarang ini ada semboyankan dalam setahun, artinya setiap tahun seekor sapi melahirkan satu ekor dan untuk ini sudah ada teknologinya.
Mengenai ekspor sapi, Samad mengatakan, untuk sementara ekspor sapi dihentikan, kalau mau menjual sapi ke luar negeri harus ada rekomendasi dari pemerintah pusat, yang ada hanya penjualan antar provinsi, hingga kini 11 provinsi di Indonesia membeli bibit sapi di NTB termasuk beberapa provinsi di Jawa minta sapi potong.
"Sejak tahun 2007 kita tidak mengekspor sapi, yang ada hanya penjualan antar provinsi, alasannya secara teknis di tingkatkan pusat kita minta mengembangkan sapi Bali yang merupakan sapi asli NTB, dengan harapan tidak semua sapi yang kualitasnya baik di ekspor, sehingga perlu terlebih dahulu dikembangkan, tahun 2006 sapi Bali pernah diekspor ke Malaysia dan mulai tahun 2007 dihentikan," ujarnya.
Selama ini minat Malaysia untuk membeli sapi lokal yang dikenal dengan sapi Bali cukup tinggi, karena dianggap perkembangannya relatif cepat dan kualitas dagingnya baik, sehingga pada saat hari raya korban seperti sekarang ini masyarakat di negeri Jiran tersebut membutuhkan ternak tersebut.
Samad mengatakan, pakannya tersedia cukup banyak, sehingga perkembangan sapi Bali di Malaysia cukup baik dan dipelihara atau digembalakan di ladang kelapa sawit, namun untuk sementara ekspor sapi ke Malaysia dihentikan untuk mengembanhkan sapi ini agar populasinya tidak terganggu.
"Kedepan kalau ternak ini memungkinkan untuk diekspor bisa dijadikan satu paket dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang selama ini banyak bekerja di negeri Jiran itu, karena selama ini mereka sudah terbiasa memelihara sapi," ujarnya.
Sejak puluhan tahun silam NTB dikenal sebagai daerah eksportir ternak potong baik ke Hong Kong maupun Singapura, namun untuk sementara distop mengingat kebutuhan lokal semakin meningkat.
Ia mengharapkan lima tahun mendatang NTB bisa kembali menjadi eksportit ternak sapi ke berbagai negara termasuk Malaysia setelah populasi sapi di NTB mencapai kondisi yang ideal.
"Kita sekarang ini sedang berjuang untuk menjadikan NTB sebagai 'provinsi sapi' selain Bumi Gogo Rancah (Gora)," ujar Samad.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026