Mataram, 1/6 (ANTARA) - Dua orang wisatawan mancanegara (wisman) pengunjung obyek wisata Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Rachel Craig (22) asal Inggris dan Rene Puper (23) asal Belanda, meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit di Kota Mataram. 

Rachel menghembuskan napas terakhirnya saat menjalani pemeriksaan medis di Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB, Sabtu (30/5) malam sementara Rene meninggal di RSU Provinsi NTB, Minggu (31/5) malam.

   Kepala Dusun (Kadus) Gili Trawangan, Zainuddin, yang ikut mengantar kedua wisatawan itu ke rumah sakit di Kota Mataram, mengatakan, sepasang kekasih berbeda warga negara itu meninggal karena kondisi tubuhnya kritis setelah mengkonsumsi sesuatu.

   "Keduanya tinggal sekamar di salah satu penginapan di Gili Trawangan, namun Rachel yang lebih dulu kritis hingga dilarikan ke RS Bhayangkara Polda NTB, kemudian Rene pada keesokan harinya yang dibawa ke RSU Provinsi NTB ini," ujarnya.

   Zainuddin yang juga dikenal dengan nama Dino itu mengatakan, para pihak yang melarikan kedua wisman itu ke rumah sakit di Mataram tidak mengetahui secara pasti apa yang dikonsumsi sepasang kekasih itu hingga keduanya kritis.

   Sebagian warga Gili Trawangan menduga kedua wisman itu mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, ada pula yang menduga kelebihan mengkonsumsi obat-obatan (over dosis).

   Dugaan itu mengemuka ketika sepasang kekasih itu menginjakkan kaki mereka di Gili Trawangan setelah "check out" dari salah satu penginapan di Gili Meno (pulau kecil yang berseberangan dengan Gili Trawangan).

   Keduanya terlihat sempoyongan saat berjalan menuju penginapan di Gili Trawangan. 

"Biar polisi yang menyelidiki apa yang dikonsumsi sehingga kedua warga asing itu meninggal," ujar Zainuddin alias Dino.

   Sementara Perwakilan Kedutaaan Besar Belanda di Jakarta, Jakob Blom, yang ditugaskan secara khusus untuk mengurus jenasah wisatawan Belanda yang meninggal di Mataram itu, mengatakan, jenasah itu akan dipulangkan ke Belanda.

   Proses pemulangannya dijadwalkan dalam sepekan ke depan karena masih harus mengurus sejumlah dokumen yang diperlukan.

   "Satu minggu ke depan kami pulangkan ke Belanda, saya juga sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit terkait penyebab kematiannya namun bukan kewenangan saya untuk menjelaskannya," ujar Blom ketika ditanya penyebab kematiannya.

   Pejabat Humas RSUD Mataram, Rudi Syarif, yang dihubungi terpisah juga enggan menjelaskan penyebab kematian wisatawan Belanda itu.

   Rudi mengaku sudah berkali-kali menanyai ahli medis yang menangani warga Belanda itu sebelum menghembuskan napas terakhir, namun belum juga memperoleh kejelasan.

   "Tanya polisi saja pak, kami tidak bisa menjelaskannya," ujarnya.

   Kasat Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Lombok Barat, AKP I Made Baduarsa, yang dikonfirmasi melalui telepon selularnya pun enggan menjelaskan permasalahan tersebut.

   "Tanya Pak Kapolres saja, nanti beliau tanya saya baru dijelaskan," ujarnya.

   Namun, hingga berita ini disiarkan Kapolres Lombok Barat, AKBP Agus Supriyanto, belum bersedia dikonfirmasi melalui telepon selularnya.(*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026