Mataram, 5/8 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) gencar melobi Departemen Perdagangan untuk memperjuangkan pembangunan gedung bursa mutiara internasional di Pulau Lombok.

"Saya sudah bicara dengan Menteri Perdagangan, Marie Elka Pangestu, agar dapat memperoleh dukungan anggaran pembangunan gedung bursa mutiara internasional itu," kata Wakil Gubernur NTB, Badrul Munir, di Mataram, Rabu.

Munir mengakui, upaya itu ditempuh sebagai tindaklanjut dari respons positif Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap pengembangan mutiara di Pulau Lombok, saat bersama Ibu Negara, Hj. Ani Yudhoyono, berdialog dengan petani dan pengusaha mutiara di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, 7 Juli lalu.  

   Saat itu, Presiden Yudhoyono menyambut baik dan langsung menginstruksikan Menteri Negara Koperasi dan UKM, dan Menteri Perdagangan yang ikut dalam rombongannya, untuk menyikapi berbagai hal yang dikeluhkan petani dan pengusaha mutiara.

   "Pak Presiden menyambut baik upaya peningkatan kualitas mutiara, produksinya dan berdaya saing. Apalagi, Ibu Yudhoyono yang sangat perhatian terhadap pengembangan mutiara di Pulau Lombok," ujar Munir mengingat kembali respons Presiden Yudhoyono dan istrinya terhadap prospek mutiara Lombok.

   Ia mengatakan, NTB merupakan daerah potensial pengembangan mutiara dengan daya dukungan lahan 19.056 hektare yang dapat memproduksi rata-rata 1,4 hingga 1,8 ton/tahun.  

  Sekitar 10-30 persen dari total produksi mutiara NTB setiap tahun diantar-pulaukan ke Surabaya dan Jakarta untuk selanjutnya diekspor ke berbagai negara oleh 38 orang pengusaha mutiara.

  Hasil penelitian Departemen Kelautan dan Perikanan, mutiara produk NTB diklasifikasikan dalam golongan A (kualitas tinggi), B (sedang) dan C (rendah). Klasifikasi A memiliki nilai jual Rp1 juta/gram, B Rp150 ribu/gram dan klasifikasi C sebesar Rp100/gram.

Bahkan, mutiara produk Nusa Tenggara Barat (NTB) diperebutkan para pembeli di bursa mutiara internasional di Jepang karena tergolong produk terbaik di dunia.

   "Mengapa para pembeli memperebutkan mutiara berkelas dunia yang asalnya dari NTB itu di Jepang? Ya...karena belum ada bursa mutiara internasional di NTB, sehingga perlu diperjuangkan," ujarnya.

   Munir menambahkan, mutiara produk NTB juga menjadi bahan perbincangan dalam "International Ecotourism Business Forum" (IEBF) yang diselenggarakan di kawasan wisata Senggigi, 5-6 Juli lalu.

   Penyelenggaraan IEBF tahun 2009 itu diikuti oleh para pembeli (buyers) dari 10 negara dan sedikitnya 25 penjual (sallers) dari dalam negeri.

  IEBF itu mempertemukan "sallers"  dengan "buyers" dari Inggris, Jerman, Uni Emirat Arab, Thailand, Hongkong, Singapura, Korea, India dan Prancis serta Indonesia, yang bertujuan membantu Pemerintah Provinsi NTB memasarkan komoditi pariwisatanya sebagaimana penyelenggaraan IEBF sebelumnya di daerah lain. 

   "Muitiara merupakan salah satu komoditi unggulan yang banyak dibicarakan pada IEBF 2009 itu," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026