Malaysia dan Indonesia termasuk NTB, punya banyak persamaan
Mataram (Antaranews NTB) - Sebanyak 15 sarjana S1 asal Kabupaten Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat akan dikirim melanjutkan kuliah jenjang S2 ke Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia.

Kerja sama bidang pendidikan yang tercakup dalam program beasiswa 1.000 mahasiswa S2 NTB ke luar negeri tersebut, dilakukan dengan penandatanganan nota kesepahaman "Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Provinsi NTB yang dilakukan Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Kepala Biro Kerjasama Setda NTB, Ahmad Nur Aulia, dengan Chancellor UPSI Prof M Dato` Shatar bin Sabran di Kampus Fakultas Seni dan Musik UPSI di Malaysia.

"Malaysia dan Indonesia termasuk NTB, punya banyak persamaan. Yaitu sama-sama memiliki perbedaan dan kemajemukan di dalam masyarakatnya. Namun dari perbedaan dan kemajemukan itu, Malaysia mampu berkembang dan maju secara harmonis dalam setiap sendi kehidupannya. Termasuk dalam kemajuan sistem dan kualitas pendidikan tingginya," kata Gubernur NTB dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Mataram, Rabu.

Menurut Zulkieflimansyah, salah satu cara untuk bisa mendobrak sekat-sekat perbedaan dan kemajemukan supaya tidak jadi penghambat kemajuan, adalah perubahan paradigma berpikir.

Menurut Gubernur, untuk berubah atau mengubah paradigma itu, adalah dengan pendidikan, kalau perlu ke luar negeri untuk memperluas cakrawala berpikir, membangun kepercayaan diri anak-anak muda NTB dalam pergaulan dengan anak-anak muda dari banyak negara di dunia, serta belajar menghargai perbedaan "difference" dan kemajemukan "diversity".

"Kerja sama dengan UPSI ini bukan baru kali ini. Sejak 2017 sudah ada program semacam pertukaran pelajar atau program magang para mahasiswa UPSI untuk belajar seni musik, tari dan kebudayaan ke Lombok. Dan dari situ, ketika potensi kerja sama beasiswa pendidikan tingkat Magister dan Doktoral di UPSI terbuka lebar dengan biaya kuliah yang murah tapi berkualitas tinggi, kenapa tidak kita ambil peluang itu," jelasnya.

Para mahasiswa yang lolos seleksi pada awal tahun 2019 itu akan menempuh pendidikan "Master of Education dan Master of Arts" di kampus berumur 96 tahun yang terletak di wilayah negara bagian Perak Malaysia itu.

Potensi besar kerja sama bidang pendidikan itu juga disampaikan Chancellor of UPSI, Prof Dato` M Shatar bin Sabran saat memberikan sambutan pembukaan. Potensi yang menurutnya berasal dari besarnya jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 300 juta orang.

"Sekira 300 juta penduduk Indonesia, dan hingga saat ini baru 6 ribu mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan progam Master dan Doktor di Malaysia. Ini sebuah potensi dan kesempatan besar bagi UPSI untuk membuka pintu lebih lebar bagi para mahasiswa Indonesia," ucap Dato` Shatar.

Menurutnya, sesuai dengan yang disebutnya sebagai Amanat 2019 dari Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia untuk meningkatkan jumlah mahasiswa internasional yang belajar di UPSI. Apalagi Indonesia dan Malaysia memiliki persamaan dari sisi agama, akar budaya dan etnis, sehingga mejadi salah satu faktor pendorong mudahnya interaksi antar mahasiswa dan proses pembelajaran serta pertukaran pengetahuan juga pengalaman.

Pada tahun 2019, UPSI menempati peringkat 10 kampus terbaik, dari 118 kampus negeri dan swasta di Malaysia. UPSI sendiri memiliki program kuliah tingkat Sarjana, Magister dan Doktoral di bidang Seni dan Humaniora, Ilmu Sosial, Ekonomi dan Bisnis, Bahasa dan Kebudayaan, Teknik Informasi dan Komunikasi serta Sains dan Teknologi.

UPSI menjadi salah satu kampus pilihan tujuan program beasiswa NTB karena biaya pendidikan yang cukup murah namun dengan standar internasional yang cukup tinggi. Biaya kuliah per semester untuk program Magister di UPSI setara dengan Rp7,5 juta per semester atau sekitar Rp30 juta untuk menyelesaikan kuliah lebih kurang selama 2 tahun. Hal ini didukung oleh biaya hidup per bulan yang setara Rp4 juta per bulan.

"Kuota beasiswa untuk mahasiswa NTB terbuka lebar untuk ditambah setiap saat, jika memang tercapai kesepakatan lanjut antar dua belah pihak," katanya.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026