Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri (Wamen) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan mengatakan budaya, media, dan narasi, merupakan kekuatan besar yang berperan membentuk pemahaman masyarakat tentang kesetaraan dan keadilan gender.
"Inilah sebabnya inisiatif yang disampaikan melalui media kreatif sangat penting dalam memperluas kesadaran di luar lingkaran kebijakan ke dalam kehidupan sehari-hari," ujar Wamen PPPA Veronica Tan dalam acara UNiTE 2025 Film Screening and Discussion di Jakarta, Jumat.
Pihaknya menyambut baik upaya UN Women dan UNFPA yang menggelar screening film bertema kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Acara tersebut diadakan sebagai bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Wamen Veronica Tan mengatakan upaya mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak bukanlah pilihan, melainkan syarat bagi kemajuan nasional.
"Dunia digital bagaikan pedang bermata dua yang memiliki risiko, tetapi juga menawarkan peluang. Kita harus menggunakan platform digital bersama-sama untuk kampanye kolektif kita. Dan kita harus menggunakannya secara bertanggung jawab," kata Veronica Tan.
Sementara Hassan Mohtashami selaku Perwakilan UNFPA di Indonesia menyoroti kekuatan bercerita dalam kampanye untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
"Cerita membantu kita lebih mudah memahami isu-isu kekerasan terhadap perempuan. Mari kita terus menceritakan kisah-kisah ini. Mari kita ingatkan diri, apa yang kita lihat dalam film-film ini bukan sekadar cerita. Film-film ini adalah refleksi dari apa yang terjadi di masyarakat," ujar Hassan.
Perwakilan UN Women Indonesia Ulziisuren Jamsran menekankan pentingnya mengubah norma-norma sosial yang menormalisasi kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Baca juga: Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia di Bima soroti peran perempuan dalam perdamaian
"Film memiliki kekuatan untuk mengubah cara pandang, membangkitkan empati yang mendorong aksi, serta menginspirasi setiap penonton untuk merefleksikan perannya dalam membangun lingkungan, dimana perempuan dan anak perempuan dapat hidup bebas dari kekerasan dan keluar dari ketakutan yang selama ini membungkam mereka," kata Ulziisuren Jamsran.
Ada lima film pendek yang ditayangkan dalam kegiatan tersebut.
Baca juga: Over 2,500 Indonesian female officers joined UN Peacekeeping missions
Film-film pendek ini menyoroti berbagai pengalaman yang dialami perempuan dan anak perempuan yang menghadapi kekerasan di ranah publik, privat, maupun digital.
Tujuannya untuk memperdalam pemahaman publik dan memperkuat aksi kolektif untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan.
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026