Lombok Tengah (ANTARA) - Konsorsium Lombok Eco Kriya yang terdiri dari Plana, Timba, dan Wise Steps Foundation, dengan dukungan penuh dari Instellar Impact, menggelar kegiatan diseminasi program ekosistem pariwisata hijau berbasis ekonomi sirkular di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Bertempat di Tampah Hills, acara ini dihadiri oleh perwakilan industri pariwisata, pemerintah, dan akademisi, sekaligus menjadi momentum penting peluncuran inisiatif yang bertujuan mengubah wajah pariwisata Lombok. 

Kegiatan ini menandai puncak capaian dampak program Catalyst Changemakers Ecosystem (CCE) 3.0 yang telah berjalan sejak Februari 2025, serta memperkenalkan solusi konkret atas tantangan pengelolaan sampah di Destinasi Super Prioritas Mandalika.

Sorotan utama acara tersebut adalah peluncuran resmi laman Tusha.id, sebuah merek bisnis hijau berbasis masyarakat yang memproduksi amenities hotel ramah lingkungan.

Melalui pengembangan bisnis ini, masyarakat Lombok Tengah, khususnya di Desa Bonder, dibekali keterampilan mengolah sampah plastik dan material Planawood menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. 

Produk yang dihasilkan meliputi coasters (tatakan gelas), gantungan kunci, tray, kotak tisu, botol sampo, serta berbagai produk pendukung operasional hotel lainnya.

"Inisiatif ini membuktikan bahwa sampah dapat diubah menjadi kemewahan. Tusha berhasil menciptakan rantai nilai baru, di mana masyarakat desa penyangga tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi berperan aktif sebagai pemasok utama dalam industri pariwisata Mandalika," kata perwakilan Konsorsium Lombok Eco Kriya, Ayu Masita.

Baca juga: Hunian hotel singkat berdampak jangka panjang bagi ekonomi NTB

Sebagai ekosistem pariwisata hijau sirkular pertama di Pulau Lombok, inisiatif ini mencatatkan dampak ganda yang signifikan. Masyarakat mitra mengalami peningkatan pendapatan rata-rata hingga 30 persen, menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi.

Selain itu, program ini juga meningkatkan kesadaran 372 warga desa penyangga Mandalika terhadap pemilahan sampah berbasis sumber di area sasaran. 

Produk-produk Tusha kini telah digunakan oleh sejumlah mitra industri pariwisata yang peduli lingkungan, seperti Nine-nine, Mandala Eco Villa, Innit Lombok, Holiday Resort Lombok, serta tuan rumah acara, Tampah Hills.

Baca juga: Pemprov NTB tawarkan potensi investasi strategis kepada Kanada

Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang, konsorsium memperkenalkan SOLAH Network (Sustainability of Oceans, Land, Air, and Heritage) sebagai platform kolaborasi utama. Jejaring ini menghubungkan masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dalam mendorong aksi kolektif menuju Lombok yang lebih hijau.

"SOLAH merupakan ruang penguatan jejaring lintas pemangku kepentingan. Kami memastikan praktik pariwisata berkelanjutan ini tidak berhenti di sini, tetapi terus berkembang melalui kolaborasi yang transparan dan terukur," ujar perwakilan konsorsium.



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026