Bank Mandiri dukung pengembangan tebu di Dompu lewat KUR

id Bank Mandiri,Tebu Dompu,Mohammad Feriyanto,PT SMS,Kecamatan Pekat

Bank Mandiri dukung pengembangan tebu di Dompu lewat KUR

Hamparan lahan tanam tebu di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/HO-Distanbun NTB)

Dompu (ANTARA) - Bank Mandiri menegaskan komitmennya mendukung pengembangan komoditas tebu di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, melalui penyediaan pembiayaan sektor produktif guna mendorong swasembada gula nasional dan memperkuat ekonomi desa.

Assistant Vice President Bank Mandiri Area Mataram Mohammad Feriyanto mengatakan pengembangan tebu di Dompu sejalan dengan kebijakan mikroekonomi Bank Mandiri yang menempatkan sektor pertanian sebagai motor penggerak ekonomi inklusif.

"Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah berkomitmen mendukung program pengembangan tebu di Dompu yang merupakan program prioritas nasional untuk mendorong swasembada gula," kata Feriyanto.

Menurut dia, penguatan produksi tebu memiliki peran strategis bagi perbankan dan perekonomian daerah. Dari sisi makro, produksi tebu yang stabil dapat menjaga pasokan gula domestik sehingga harga tetap terkendali dan tekanan inflasi daerah dapat ditekan.

Sementara dari sisi mikro, sektor pertanian kembali diperkuat sebagai fondasi ketahanan ekonomi wilayah berbasis desa.

Feriyanto menilai tantangan utama pengembangan tebu berada pada ketersediaan modal di tingkat petani. Biaya awal penanaman tebu, mulai dari pengolahan lahan, penyediaan bibit, perawatan, hingga biaya panen dan pengangkutan ke pabrik, membutuhkan dukungan pembiayaan yang tidak kecil.

"Tanpa skema kredit yang sesuai dengan siklus panen tebu, banyak petani pemula yang kesulitan memulai usaha," ujarnya.

Baca juga: Kemendes-Bank Mandiri kolaborasi perkuat literasi keuangan

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Bank Mandiri menyiapkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Usaha Mikro (KUM) dengan pola pembayaran yang disesuaikan dengan masa panen tebu. Skema ini dirancang agar arus kas petani tetap sehat dan produksi dapat berjalan berkelanjutan.

Selain pembiayaan, Bank Mandiri juga memperkuat ekosistem usaha melalui kemitraan dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), pabrik gula yang telah beroperasi di Dompu sejak 2016.

Pola kemitraan ini menghubungkan pembiayaan dari hulu hingga hilir, mulai dari petani, pemasok, hingga vendor, dalam satu rantai usaha terintegrasi.

Di sisi lain, Bank Mandiri turut memperluas akses pembiayaan melalui koordinasi dengan bank Himbara, bank pembangunan daerah (BPD), dan koperasi. Upaya ini bertujuan mengurangi ketergantungan petani pada pembiayaan nonformal yang berisiko tinggi dan membebani petani.

Dukungan perbankan tersebut dinilai penting oleh pelaku di lapangan. Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pekat Mukhtar mengatakan akses kredit masih sangat dibutuhkan, khususnya bagi petani tebu pemula.

"Mereka membutuhkan modal awal untuk tahap penanaman dan pengelolaan lahan. Program kredit perbankan seperti ini sangat diharapkan petani," katanya.

Baca juga: Bank NTB Syariah bersama Wakaf Warrior latih difabel jadi wirausaha mandiri

Ia menjelaskan Kabupaten Dompu telah ditetapkan sebagai kawasan pengembangan tebu nasional. Namun, penguatan di tingkat desa tetap menjadi kunci keberhasilan. Dari 12 desa di Kecamatan Pekat, delapan desa dinilai potensial untuk pengembangan tebu, yakni Calabai, Karumbu, Kadindi, Kadindi Barat, Nangamiro, Tambora, Doropeti, dan Soritatanga.

Strategi pengembangan dilakukan melalui sosialisasi, penguatan kemitraan dengan PT SMS, serta upaya memastikan ketersediaan bibit dan alat pengolahan lahan.

Selama ini, PT SMS telah membantu petani dengan menyediakan bibit gratis, meski dukungan alat berat seperti jonder untuk pembajakan lahan masih terbatas.

Mukhtar juga mendorong alih komoditas dari tanaman yang kurang produktif ke tebu agar petani memperoleh manfaat ekonomi jangka panjang.

Hal ini dinilai penting mengingat operasional pabrik gula PT SMS akan optimal jika luas lahan kemitraan mencapai 10–11 ribu hektare, sementara saat ini lahan yang dikelola baru sekitar 3.200 hektare.

Meski demikian, dampak ekonomi tebu telah dirasakan masyarakat. Sekitar 200 petani tebu di Kecamatan Pekat tercatat mampu menunaikan ibadah umrah pada 2024. Selain itu, banyak petani yang berhasil menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi di Lombok, Makassar, dan Jawa.

Baca juga: Bank Mandiri Taspen resmikan Ruang Belajar Mantap di Fatululi Kupang

Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.