Penyintas bencana masih menetap di SMAN 1 Tukka

id Bangkit Sumatera,Bangkit,Pemulihan pascabencaa Sumut

Penyintas bencana masih menetap di SMAN 1 Tukka

Pelajar SMA Negeri 1 Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah menjalani proses belaja mengajar di tenda darurat karena ruang kelas mereka ditempati penyintas bencana yang mengungsi di bangunan tersebut pada Selasa (27/1/2026). ANTARA/Mario Sofia Nasution

Tukka (ANTARA) - Ratusan penyintas bencana hidrometeorologi masih menetap atau mengungsi di ruang-ruang kelas SMA Negeri 1 Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut) setelah banjir bandang dan longsor yang menyapu rumah penduduk di daerah setempat pada akhir November 2025.

“Total ada 162 kepala keluarga dengan 672 jiwa yang masih menetap di sekolah ini,” kata Kepala Kepling 3 Tukka Mardiana Tambunan di Tukka, Selasa.

Menurut dia, jumlah pengungsi yang tercatat 280 orang laki-laki dan 392 perempuan. Selain itu, terdapat 130 orang anak, 63 orang balita, 25 bayi serta 66 lansia. Selain itu, tercatat ada empat orang penyandang disabilitas, lima ibu hamil dan 25 orang ibu menyusui yang menetap di 27 ruang kelas yang ada di sekolah tersebut.

“Pengungsi ini berasal dari dua desa, yakni Desa Tukka dan Desa Hutanabolon yang menjadi korban banjir,” kata dia.

Ia mengatakan sebelumnya jumlah pengungsi lebih banyak, tapi karena air telah surut dan rumah mereka masih dapat ditempati dengan layak, maka mereka pulang.

“Kini warga yang ada di sini rumah mereka tidak ada lagi dan masih menunggu bantuan hunian sementara atau huntara maupun hunian tetap atau huntap,” kata dia.

Ia mengatakan huntara yang tersedia saat ini jumlahnya tidak mencukupi dan pihaknya mendorong pemerintah untuk menyediakan bantuan bagi penyintas.

“Untuk di pengungsian ada bantuan makanan yang diberikan kepada pengungsi berupa makanan dari dapur umum,” kata dia.

Baca juga: TNI menargetkan pembangunan jembatan gantung di Tukka rampung Februari

Menurut dia, pengungsi ini sebagian besar bekerja sebagai petani dan berkebun karet di wilayah tempat tinggal mereka. “Kebun karet dan sawah sudah direndam lumpur, kayu dan pasir. Rumah mereka juga hilang,” kata dia.

Ia berharap penyintas bencana banjir dan longsor ini dapat keluar dari sekolah, sehingga tidak lagi mengganggu aktivitas anak-anak sekolah.

“Kami ingin segera keluar karena kasihan anak-anak SMAN 1 Tukka ini terganggu belajar,” kata dia

Sebelumnya, ratusan pelajar SMA Negeri 1 Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah terpaksa belajar di tenda darurat hingga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat sekolah mereka digunakan sebagai tempat pengungsian penyintas bencana hidrometeorologi yang terjadi di daerah setempat pada akhir November 2025.

Baca juga: Tanah Datar proposes rebuilding sabo dam damaged by flash flood

“27 ruang kelas yang ada di sekolah ini sudah ditempati para pengungsi, sehingga para siswa melakukan penyesuaian,” kata Kepala SMA Negeri 1 Tukka Faisal Napitupulu di Tukka.

Menurut dia, total ada 940 anak terbagi dalam 27 rombongan belajar yang bersekolah di SMA Negeri 1 Tukka ini

Ia menambahkan aktivitas belajar di sekolah ini dimulai pada 5 Januari 2025 dan saat itu hanya sebagian siswa yang mengikuti pembelajaran luring.

Kemudian, dengan bertambahnya jumlah tenda, maka jumlah siswa yang belajar di tenda ditambah menjadi empat kelas.

“Mereka ini belajar dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB dan memang anak-anak mengeluhkan kondisi panas di dalam tenda,” kata dia.


Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.