Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat laju inflasi bulanan sebesar 0,27 persen pada Januari 2026 dengan pemicu utama lonjakan harga logam mulia.
Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB Muhammad Ahyar mengatakan kelompok pengeluaran pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 2,43 persen dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,17 persen.
"Di dalam kelompok pengeluaran tersebut terdapat emas dan perhiasan yang mengalami lonjakan harga tertinggi," ujar dia di Mataram, Senin.
Harga emas Aneka Tambang (Antam) yang menjadi acuan nasional sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang massa di level Rp3,16 juta per gram pada 29 Januari 2026. Kondisi geopolitik dunia yang terus memanas menyebabkan kenaikan harga logam mulia tersebut.
Baca juga: NTB alami inflasi 3,01 persen sepanjang 2025
Ahyar menjelaskan laju inflasi bulanan di NTB lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang justru mengalami deflasi sebesar minus 0,15 persen.
Sedangkan secara tahunan, BPS mencatat inflasi NTB sebesar 3,86 persen. Angka itu juga lebih tinggi ketimbang inflasi tahunan nasional yang bertengger pada angka 3,55 persen.
Selain emas, ia mengatakan kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut mengalami inflasi sebesar 0,27 persen dengan andil 0,10 persen. Kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas perikanan dan hortikultura.
Baca juga: Hortikultura picu inflasi bulanan 0,72 persen di NTB
Pada Januari 2026, lima komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi di Nusa Tenggara Barat adalah emas perhiasan sebesar 0,18 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,10 persen, ikan bandeng 0,06 persen, tomat 0,05 persen, dan ikan teri 0,05 persen.
Data BPS menyebut kelompok pengeluaran transportasi menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi, yakni sebesar minus 0,58 persen dengan andil minus 0,07 persen.
"Kelompok pengeluaran transportasi yang mengalami deflasi dipengaruhi oleh adanya diskon angkutan udara, sehingga menahan laju inflasi," kata Ahyar.
Baca juga: NTB alami inflasi bulanan 0,35 persen pada Oktober 2025
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026