Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan meraih rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk skrining penyakit jantung bawaan (PJB) serentak terbanyak.

Program yang dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia selama periode 24 Januari hingga 14 Februari 2026 ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran publik sekaligus mendorong deteksi dini PJB pada anak.

Program skrining PJB berskala nasional ini mencatatkan prestasi dengan meraih rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori “Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan (PJB) secara Serentak kepada Anak Terbanyak”, dengan penyerahan penghargaan yang dilakukan bersamaan pada Malam Puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita, 14 Februari 2026.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa setiap tahun puluhan ribu bayi di Indonesia lahir dengan PJB, banyak di antaranya berada dalam kondisi berat (severe).

Pemerintah, lanjut Menkes Budi, terus memberikan perhatian serius terhadap isu ini, per 2025 misalnya, telah dilaksanakan pelaksanaan skrining terhadap hampir 1,7 juta bayi dan menunjukkan banyak sekali yang belum tertangani dengan baik.

“Ke depan, kita harus lebih agresif lagi dalam upaya penyelamatan nyawa mereka, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan serta menambah jumlah spesialis jantung anak dan bedah jantung anak sehingga bisa melakukan intervensi non bedah dan intervensi bedah jantung anak lebih banyak lagi,” kata Menkes Budi dalam keterangan pers di Jakarta, pada Senin.

Menkes juga menyampaikan apresiasi kepada Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB Perki dalam deteksi dini PJB secara serentak yang dinilai sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memperluas akses layanan kesehatan jantung bagi anak-anak Indonesia.

Adapun program skrining PJB ini terutama ditujukan bagi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah luar biasa, serta pesantren, dan dilaksanakan di 29 kota dan kabupaten di 24 provinsi di Indonesia, mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura.

Baca juga: Bahaya gagal jantung, National Hospital Heart Center bersama Perki gelar simposium

Selain bertujuan menjaring kasus PJB pada anak usia di bawah 18 tahun dan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai PJB, kegiatan deteksi dini ini juga diharapkan dapat menghasilkan gambaran prevalensi PJB nasional serta menjadi langkah awal pengumpulan data registri PJB nasional.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) dr. Ade Median Ambari SpJP(K), PhD, FIHA, menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian anak di dunia maupun di Indonesia.

Baca juga: Waspadai beberapa gejala pasien gagal jantung

Data Asia Tenggara menunjukkan prevalensi PJB sebesar 9-10 per seribu kelahiran hidup. Setiap 100 bayi lahir, ada 1 yang menderita PJB. Data yang ada menunjukkan sekurangnya 45 ribu bayi per tahun dengan PJB. Data Murni, dkk (2021) menyebutkan adanya keterlambatan deteksi Penyakit Jantung Bawaan di Indonesia sebesar 60,8 persen.

Perki yang diprakarsai oleh Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan berkomitmen mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Indonesia melalui berbagai program, salah satunya program skrining nasional PJB gratis menyeluruh di beberapa wilayah Indonesia.

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026