Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yunefit Ulfa merekomendasikan perawatan metode family led care dalam rangka memperkuat kesehatan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Dalam diskusi yang digelar secara daring di Jakarta, Selasa, Ulfa mengatakan family led care merupakan pendekatan dalam perawatan neonatal yang memberdayakan orang tua, terutama ibu, serta melibatkan anggota keluarga secara aktif dalam proses perawatan bayi.

"Lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan dukungan emosional, informasi, dan bantuan nyata kepada ibu. Ketika keluarga memberikan dukungan yang baik, ibu akan lebih percaya diri, tidak merasa sendirian, lebih mampu menjalankan praktik perawatan bayinya secara konsisten, karena family led care tidak hanya berfokus pada kesehatan bayi, tetapi juga pada penguatan kapasitas keluarga sebagai tim pendukung utama dalam pengasuhan bayi dengan BBLR," katanya.

Ulfa menyebutkan family led care bersifat jangka panjang, di mana bayi BBLR memerlukan perawatan tidak hanya selama di fasilitas kesehatan, namun juga saat bayi kembali ke rumah.

Family led care, lanjut dia, juga berfungsi dalam upaya pemantauan pertumbuhan secara berkala untuk memastikan bahwa berat badan, panjang badan, dan perkembangan bayi berjalan dengan baik.

"Bayi BBLR sering membutuhkan dukungan menyusui yang lebih intensif, karena kemampuan menyusui mereka seringkali masih terbatas dan mudah lelah. Selain itu, BBLR juga memerlukan stimulasi perkembangan yang tepat, agar proses perkembangan motorik, kognitif, dan sosial dapat berlangsung secara optimal. Karena sebagian besar waktu bayi dihabiskan di rumah, maka kualitas pengasuhan keluarga menjadi faktor penentu, utama keberhasilan dari perawatan bayi BBLR," ujarnya.

Baca juga: BRIN discovers new endemic land snail in South Sumatra

Menurut Ulfa, perawatan yang tepat guna dalam menangani masalah BBLR menjadi hal krusial, sebab riset menunjukkan bayi BBLR 2,32 kali lebih tinggi mengalami stunting pada usia 0-5 tahun. Di samping itu, bayi BBLR juga berisiko 2-5 kali lebih tinggi mengalami infeksi.

Oleh karena itu, ia mendorong adanya upaya sosialisasi edukasi berbasis keluarga yang perlu dimulai sejak masa antenatal. Selama kehamilan, tenaga kesehatan dapat memulai memberikan informasi kepada ibu dan keluarga mengenai faktor risiko BBLR serta cara-cara dasar merawat bayi kecil.

Selanjutnya, Ulfa juga mendukung adanya pelibatan ayah dalam membantu perawatan bayi, sebab dukungan ayah dapat membantu ibu secara emosional maupun praktis, memotivasi ibu dalam pemberian ASI, juga membantu pekerjaan rumah tangga sehingga ibu akan merasa lebih ringan.

Baca juga: Indonesia launches national research and innovation roadmap

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pelatihan bagi kader kesehatan di komunitas, karena kader seringkali menjadi penghubung antara fasilitas kesehatan dan keluarga di masyarakat.

Berdasarkan riset kualitatif yang dilakukannya pada tahun 2025, banyak dari ibu yang tidak mendapatkan informasi mengenai tanda bahaya pada bayi baru lahir, terutama dengan bayi BBLR. Hal serupa juga terjadi dengan kader bahkan nakes.

"Pemberdayaan perempuan tidak hanya tentang meningkatkan kapasitas ibu, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung dalam pengasuhan bayi." tutur Yunefit Ulfa.


 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026