Tapanuli Tengah-Sumatera Utara (ANTARA) - Pemandangan berbeda terasa menyelimuti Hutanabolon, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, saat perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026.

Ornamen hiasan Islami tak tampak di sepanjang lorong desa. Yang tersisa hanyalah hamparan lumpur dan pasir, seolah menggantikan peran ragam hias keagamaan yang biasanya menandai hari raya pada tahun-tahun sebelumnya.

Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Jalanan yang biasanya dipenuhi warga yang bersilaturahmi, kini lengang. Tak ada suara tawa anak-anak, juga tak terdengar riuh percakapan keluarga yang saling berkunjung.

Desa itu seakan berhenti sejenak, menyimpan luka yang belum sepenuhnya pulih sejak banjir bandang menerjang pada akhir November 2025 lalu.

Di sebuah rumah sederhana yang masih berdiri, Rasokki Panggabean duduk di teras bersama keluarganya. Rasokki merupakan Kepala Lingkungan setempat.

Pada tahun-tahun sebelumnya, rumah itu selalu ramai didatangi keluarga, kerabat, dan warga yang datang bersilaturahmi. Tahun lalu, hidangan tersaji lengkap, dan tawa mengisi setiap sudut ruangan.

Namun tahun ini, suasana yang berbeda terasa begitu nyata. Hanya potongan ketupat seukuran genggaman tangan anak-anak tersaji di atas piring berkelir putih. Sebagai pelengkap santapan sederhana itu, Rasokki menyiapkan satu teko air putih hangat bagi tamu yang datang.

“Ya beginilah Lebaran kita kali ini, apa adanya saja,” ucap Rasokki pelan.

Tahun ini menjadi masa yang berat bagi Rasokki dan 197 kepala keluarga lainnya di Hutanabolon. Tradisi-tradisi tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri tak lagi tampak di desa tersebut.

Kondisi perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 di Hutanabolon, Tapanuli Tengah, Suamtera Utara. (ANTARA/Chairul Rohman)

 

Asap, tanda tradisi memasak lemang bersama, yang biasanya mengepul ke udara dari halaman belakang rumah warga kini tak lagi terlihat. Tradisi membuat kue nastar, kue bawang, dan aneka kue kering lainnya pun ikut menghilang.

“Biasanya memang buat lemang. Kali ini kami tidak membuatnya, karena kondisi juga kan. Jadi tidak terpikir lagi untuk membuat kue-kue seperti itu,” katanya.

 

Bencana yang melanda beberapa bulan lalu tidak hanya merusak rumah dan lingkungan, tetapi juga mematahkan rutinitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga Hutanabolon.

Bagi Rasokki, yang paling terasa justru hilangnya suasana kebersamaan. Saudara-saudara yang biasanya pulang kampung memilih untuk tidak datang tahun ini. Rasa khawatir terhadap kondisi desa yang belum sepenuhnya aman membuat mereka menunda kepulangan.

“Yang biasanya ramai, sekarang ya sepi. Saudara dari tanah rantau juga tidak berani datang ke Hutanabolon saat ini,” ujarnya.

Kediaman Rasokki pun masih menyisakan jejak bencana. Sisa lumpur menempel jelas di tembok rumah berkelir putih, membentuk garis setinggi bahu orang dewasa—penanda betapa tinggi air pernah menerjang.

Meski demikian, rumah itu masih cukup layak dihuni bersama istrinya. Kini, pikirannya dipenuhi kekhawatiran tentang masa depan. Ia tak ingin terus bergantung pada bantuan. Keinginannya sederhana: lahan-lahan mereka dapat segera pulih agar kembali menghasilkan, sehingga mereka bisa memperoleh penghasilan dari kerja keras sendiri.

Rasokki, yang sebelumnya bekerja sebagai petani, kini kehilangan sumber penghidupan. Lahan yang dulu digarap tak lagi bisa diandalkan. Untuk bertahan hidup, Rasokki membuka warung kelontong kecil di rumahnya. Rak-rak sederhana berisi kebutuhan sehari-hari kini menjadi penopang kehidupan di tengah ketidakpastian.

“Sekarang ya berharap dari panggilan kerja saja. Kalau ada teman yang minta bantu bangun rumah atau kerja apa saja, saya terima,” katanya.

Baca juga: Pemerintah berikan bantuan kepada UMKM terdampak di Tukka

Dalam kondisi yang serba terdesak seperti saat ini, ia hanya berharap pemerintah dapat mempercepat proses pemulihan yang tengah dikerjakan pemerintah daerah bersama pemerintah pusat.

Menurutnya, pemulihan paling mendesak adalah perbaikan tanggul Sungai Tukka. Ia menilai tanggul tersebut kerap meluapkan air ke jalan-jalan di Hutanabolon dan sekitarnya karena tidak lagi mampu menahan debit air yang melimpah.

Tepat di depan rumah Rasokki, terbentang pemandangan yang mengiris hati siapa pun yang melihatnya.

Ia adalah Obadia Lase, seorang kakek berusia 54 tahun. Mengenakan kaus merah bergambar salah satu politikus yang mencalonkan diri sebagai Bupati Tapanuli Tengah, ia tampak sibuk mencangkul lumpur di samping halaman rumahnya.

Baca juga: Malalo Sumbar sambut perantau dengan tari jadi "trauma healing"

Setiap ayunan cangkulnya terlihat berat. Namun ia tetap melakukannya, seolah enggan menyerah pada keadaan.

Pemandangan itu seakan menggambarkan kondisi Hutanabolon secara keseluruhan: lelah, terluka, tetapi terus berusaha bangkit. Di tengah semua itu, kehidupan tetap berjalan dengan cara yang paling sederhana. Sekali lagi, harapan yang sama terdengar dari hampir setiap warga akan terjadinya pemulihan yang cepat sehingga kehidupan dapat kembali berjalan normal.

“Ya, semoga desa kami ini cepat pulih dibantu oleh pemerintah,” kata Obadia sambil menggenggam gagang cangkul yang berlumur lumpur.

Kini, kebun karet yang dahulu ia kunjungi setiap hari telah tertimbun lumpur dan pasir. Banyak pohon yang tumbang, membuat sumber penghasilannya nyaris hilang.

Seperti Rasokki, ia pun beralih menjadi buruh kasar, siap menerima panggilan kerja kapan saja selama pekerjaan itu memberikan penghasilan yang halal. Tak ada kemewahan, tak ada perayaan besar. Hanya ketulusan menerima keadaan dan harapan agar hari esok menjadi lebih baik.

Lebaran tahun ini mungkin kehilangan gemerlapnya di Hutanabolon. Namun, di balik kesunyian itu, tersimpan makna yang terasa jauh lebih dalam, tentang kesabaran menghadapi cobaan, keteguhan untuk tetap bertahan, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam, bahkan di tengah keterbatasan.

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026