KPU NTB sosialisasi pemilu melalui khutbah jumat
Senin, 3 Juni 2013 9:54 WIB
Kutbah Jumat (ist) (1)
Mataram, Antara Mataram) - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Barat berupaya meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu Legislatif 2014 dengan melakukan sosialisasi melalui khutbah Jumat di masjid yang ada di daerah ini.
Ketua Divisi Sosialisasi, Informasi, Pendidikan Pemilih dan Pengembangan Sumber Daya Manusia KPU Provinsi NTB Darmansyah di Mataram, Senin, mengatakan pihaknya melakukan sosialisasi itu bekerja sama dengan Kanwil kementerian Agama NTB.
"Kami melakukan sosialisasi melalui khutbah Jumat dengan melibatkan 500 khatib sejumlah masjid di NTB. Dalam khutbah Jumat tersebut disisipkan pesan-pesan mengenai pentingnya menggunakan hak suara pada Pemilu 2014," katanya.
Ia mengatakan bahwa dengan cara itu diharapkan masyarakat memahami pentingnya menggunakan hak suara untuk memilih calon pemimpin yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam upaya meningkatkan partisipasi pemilih KPU NTB juga melaksanakan program masuk kampus atau "goes to campus" untuk menyosialisasikan Pemilu Legislatif 2014 dalam upaya mengurangi angka golput (golongan putih) atau masyarakat yang tidak memberikan hak suaranya.
"Kami melaksanakan program goes to campus dalam upaya mengurangi angka golput yang masih cukup tinggi di NTB," ujarnya.
Ia mengatakan sosialisasi melalui program masuk kampus itu diharapkan berdampak positif terhadap para mahasiswa untuk memberikan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif 2014
Untuk meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu 2014 KPU NTB juga menggandeng organisasi sosial keagamaan seperti NU, Muhammadiyah dan organisasi kemasyarakatan lainnya untuk menyosialisasikan Pemilu.
Di samping itu, katanya, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan media massa baik cetak, elektronik termasuk media online dalam melakukan sosialisasi. Peran media dalam menyosialisasikan Pemilu semakin masif.
KPU NTB juga memanfaatkan Panitia Pemungutan Suara (PPS) sebagai basis pemutakhiran data, tidak lagi seperti pada Pemilu sebelumnya, desa menjadi basis pemutakhiran data.
"Ini akan jauh lebih efektif dalam pemutakhiran data, karena jangkauannya lebih sempit dibanding kalau basisnya di desa, sehingga reratif lebih banyak pemilih yang terjaring. Ini juga sekaligus sebagai upaya sosialisasi," ujarnya.
Dengan cara ini, katanya, pihaknya optimis pastisipasi pemilih di NTB pada Pemilu Legislatif 2014 akan meningkat dan diharapkan bisa menapai 75 persen.
Menurut Darmansyah, tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur NTB 13 Mei 2013 sebesar 70,46 persen. Ini berarti angka golput di daerah ini mencapai 20,64 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 3.478.481 orang.
"Kalau kita mencoba mengidentifikasi dari total DPT dan pemilih di TPS, sebagian terbesar karena ada pemilih yang terdaftar dalam DPT yang tidak ikut memilih atau golput pada pemungutan suara," katanya.
Menurut dia, alasan mereka yang tidak ikut memilih itu, karena bekerja di luar daerah, seperti menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Selain itu ada juga mahasiswa yang terdaftar di DPT di Pulau Sumbawa, sementara yang bersangkutan sedang kuliah di Kota Mataram.
"Selain goplut karena alasan teknis, ada juga yang memang karena alasan ideologis. Khusus di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur yang memberikan sumbangan terbesar terhadap angka golput karena berada di luar daerah, antara lain menjadi TKI di luar negeri," katanya.(*)
Ketua Divisi Sosialisasi, Informasi, Pendidikan Pemilih dan Pengembangan Sumber Daya Manusia KPU Provinsi NTB Darmansyah di Mataram, Senin, mengatakan pihaknya melakukan sosialisasi itu bekerja sama dengan Kanwil kementerian Agama NTB.
"Kami melakukan sosialisasi melalui khutbah Jumat dengan melibatkan 500 khatib sejumlah masjid di NTB. Dalam khutbah Jumat tersebut disisipkan pesan-pesan mengenai pentingnya menggunakan hak suara pada Pemilu 2014," katanya.
Ia mengatakan bahwa dengan cara itu diharapkan masyarakat memahami pentingnya menggunakan hak suara untuk memilih calon pemimpin yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam upaya meningkatkan partisipasi pemilih KPU NTB juga melaksanakan program masuk kampus atau "goes to campus" untuk menyosialisasikan Pemilu Legislatif 2014 dalam upaya mengurangi angka golput (golongan putih) atau masyarakat yang tidak memberikan hak suaranya.
"Kami melaksanakan program goes to campus dalam upaya mengurangi angka golput yang masih cukup tinggi di NTB," ujarnya.
Ia mengatakan sosialisasi melalui program masuk kampus itu diharapkan berdampak positif terhadap para mahasiswa untuk memberikan hak pilihnya pada Pemilu Legislatif 2014
Untuk meningkatkan partisipasi pemilih pada Pemilu 2014 KPU NTB juga menggandeng organisasi sosial keagamaan seperti NU, Muhammadiyah dan organisasi kemasyarakatan lainnya untuk menyosialisasikan Pemilu.
Di samping itu, katanya, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan media massa baik cetak, elektronik termasuk media online dalam melakukan sosialisasi. Peran media dalam menyosialisasikan Pemilu semakin masif.
KPU NTB juga memanfaatkan Panitia Pemungutan Suara (PPS) sebagai basis pemutakhiran data, tidak lagi seperti pada Pemilu sebelumnya, desa menjadi basis pemutakhiran data.
"Ini akan jauh lebih efektif dalam pemutakhiran data, karena jangkauannya lebih sempit dibanding kalau basisnya di desa, sehingga reratif lebih banyak pemilih yang terjaring. Ini juga sekaligus sebagai upaya sosialisasi," ujarnya.
Dengan cara ini, katanya, pihaknya optimis pastisipasi pemilih di NTB pada Pemilu Legislatif 2014 akan meningkat dan diharapkan bisa menapai 75 persen.
Menurut Darmansyah, tingkat partisipasi masyarakat pada Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur NTB 13 Mei 2013 sebesar 70,46 persen. Ini berarti angka golput di daerah ini mencapai 20,64 persen dari total daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 3.478.481 orang.
"Kalau kita mencoba mengidentifikasi dari total DPT dan pemilih di TPS, sebagian terbesar karena ada pemilih yang terdaftar dalam DPT yang tidak ikut memilih atau golput pada pemungutan suara," katanya.
Menurut dia, alasan mereka yang tidak ikut memilih itu, karena bekerja di luar daerah, seperti menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Selain itu ada juga mahasiswa yang terdaftar di DPT di Pulau Sumbawa, sementara yang bersangkutan sedang kuliah di Kota Mataram.
"Selain goplut karena alasan teknis, ada juga yang memang karena alasan ideologis. Khusus di Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur yang memberikan sumbangan terbesar terhadap angka golput karena berada di luar daerah, antara lain menjadi TKI di luar negeri," katanya.(*)
Pewarta : OLeh Masnun
Editor : Masnun
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BPJS Kesehatan-MUI kolaborasi menjadikan khutbah media sosialisasikan JKN
09 February 2026 17:56 WIB
Balai PGAMBGT Nusa Tenggara gelar sosialisasi mitigasi bencana geologi di Bima
08 December 2025 16:38 WIB
Kota Bima jadi tuan rumah Sosialisasi Imunisasi Heksavalen tingkat Provinsi NTB
28 November 2025 6:25 WIB
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024